Sosial[k]itaSeptember 20, 2009 6:36 am

Alhamdulillah, Sabtu kemarin, 19 September 2009, jam 07.03 telah lahir anak kedua kami, seorang bayi perempuan cantik dengan berat 3.5kg dan panjang 50cm. Sebuah karunia terindah di hari nan fitri setelah penantian selama lebih 6 tahun sejak anak kami yang pertama.
Sulit dilukiskan betapa berbahagianya kami akan kehadiran bayi ini. Doa Ayah padamu nak, “Semoga menjadi anak yang sholehah, dan berbakti pada orang tua.” Amin

Sosial[k]itaDecember 25, 2007 3:26 am

Prolog
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini. Mengapa karyawan berbakat pergi walaupun gajianya besar? Karyawan berhenti untuk alasan yang sama yang mendorong banyak orang yang berbakat pergi.

Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku yang berjudul Break All the Rules.

Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meningalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung mereka. Lebih dari sekedar alasan apa pun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam sebuah organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya, langsung ke pesaing. “Orang meninggalkan manajer, bukan perusahaan,” tulis pengarang Marcus Buckingham dan Curt Coffman.

“Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus–dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan oramg keluar adalah manajer.”

Kalau anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana ia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer diatasnya.

Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survey majalah Fortune beberapa tahun yang lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit. Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan.

Pakar SDM mengatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya sudah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif. Dengan membandel dan memperlambat kerja. Dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih. Dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.

Seorang pakar manajemen berkata:”jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa Anda di pekerjaan itu.” Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda–dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung lama, seorang karyawan akan berhenti–biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan yang ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan–untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus–mereka yang keluar sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka:”Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.”

Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu untuk sementara waktu. Kehilangn klien dan relasi yang telah dibina orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya,entah tentang kebaikan atau keburukan.

“Perusahaan apa pun yang mencoba untuk bersaing, harus menemukan cara untuk menarik hati dan pikiran setiap karyawan.” kata Jack Welch dari GE. Sebagian besar nilai sebuah perusahaan terletak pada karyawannya. Sayangnya banyak eksekutif senior yang sibuk keliling dunia, menandatangani transaksi-transaksi baru, dan mengembangkan visi untuk perusahaan, tetapi tidak begitu paham dengan apa yang terjadi di kantornya.

[dari berbagai sumber],
Ciputat, 24 Desember 2007

Sosial[k]ita, PerjalananApril 10, 2007 9:44 am

Ketika ke Surabaya kemarin saya menyempatkan diri melihat musibah lumpur di Porong-Sidoarjo, orang kadung bilang ‘lumpur lapindo’. Saya katakan musibah karena kejadian tsb telah membuat ribuan orang exodus dari tempat tinggalnya dan mengungsi ke barak-barak penampungan.

Disisi lain saya melihat ini sebagai fenomena alam terbentuknya gunung atau danau alam. Bagaimana tidak, upaya yang dilakukan untuk menutup lubang semburan sampai saat ini dikatakan belum berhasil. Lumpur terus menerus keluar dari perut bumi, membanjiri daerah-daerah yang lebih rendah. Bahkan saya amati di beberapa titik (yang sebelumnya adalah perkampungan), sudah mulai muncul semburan-semburan lumpur dan gas walaupun dalam ukuran yang kecil.

Yang saya lihat saat ini, orang berusaha untuk melokalisir area semburan lumpur agar tidak makin meluas. Dibuatnya urugan tanah membentuk cincin. Cincin urugan tanah paling jauh, yang paling dekat ke jalan dan rel kereta tingginya ada yang mencapai mungkin 5 meteran. Lumpur yang tertahan oleh cincin tsb sudah mulai mengendap dan membentuk danau, sementara cincin yang lebih dalam masih berupa lumpur halus…masih mengepul karena panas. Di cincin yang paling dalam dekat semburan lumpur…urugan dibuat makin tinggi.

Ini musibah bagi kebanyakan orang yang rumahnya terendam lumpur, hilangnya mata pencaharian bagi orang yang bekerja yang tempat kerjanya ikut terendam. Tapi fenomena ini sedikitnya menjadi ladang mata pencaharian bagi mereka yang masih bertahan. Mereka mengutip bayaran bagi siap saja yang ingin melihat langsung dari dekat fenomena tsb, menyewakan ojek bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat (sampai ke batas pita kuning yang tak boleh dilewati), menjual vdc berisi kronologis kejadian, serta warung-warung dan tempat parkir disekitar lokasi. Mereka menjadi guide bagi siapa saja yang datang melihat ini.

Foto-foto amatir berikut mengabadikan fenomena ini.
Gambar 1. Ketinggian lumpur yang lebih tinggi dibandingkan jalan dan jalanpun terendam air
memandang

Gambar 2. Lumpur yang mulai mengendap menghasilkan danau.
mendanau

Gambar 3. Pohon pun ikut mati karena terendam lumpur panas.
meranggas

Gambar 4. Pusat semburan yang dilokalisir dengan meninggikan tanggul.
semburan01

Gambar 5. Semuanya terendam menyisakan atap
terendam01

Gambar 6, Bangunan sudah mulai roboh digerogoti lumpur.
terendam02

Sosial[k]itaMarch 24, 2007 3:59 pm

Mengamati kecelakaan akhir-akhir ini yang menimpa maskapai penerbangan membuat perasaan ngak nyaman ketika tugas mengharuskan ke luar kota, dan rutenya tak tanggung semacam tur ke Sulawesi saja : Makassar, Kendari dan Manado.
Memilih maskapai penerbangan tidak ada lagi pilihan. Tak ada jaminan bahwa maskapai yang satu lebih baik dari yang lain, bahkan maskapai yang dinilai paling aman pun terkena insiden yang sangat mengejutkan.

Hikmahnya bagi diri pribadi adalah saya lebih khusu berdo’a ketika pesawat tinggal landas apalagi mendarat. Berdo’a dan berserah diri kepada Allah SWT. Cuaca buruk, goncangan di pesawat memberi sensasi yang lebih dibanding dulu. Jika dulu mengalami hal seperti itu dianggap biasa-biasa saja, beda dengan sekarang: waspada-waspada.

Jika dulu sengaja boarding cepat agar bisa milih tempat dulu (tempat favorit adalah exit door di bagian sayap, alasannya tempat dulu lebih lapang), sekarang cepat-cepat boarding agar bisa milih tempat duduk di paling belakang. Mengapa ngak didepan/tengah pak, masih kosong koq, di belakang kan bising. Ngak ah enak dibelakang..lebih tenang…deket toilet ..he..he…

Sosial[k]itaJanuary 12, 2007 7:18 am

new job,
new opportunity,
new challenge…
new salary…he…he…

Sosial[k]itaJanuary 9, 2007 10:22 am

Tanggal 8 Januari 2007 merupakan awal yang baik bagi saya. Alhamdulillah saya bisa lulus CCNA exam (640-801) dengan skor 885/1000. Nilainya tidak sempurna memang…tapi untuk sementara itu cukup berarti bagi saya. Sekarang waktunya untuk merencanakan langkah berikutnya.
Welcome to networking area….

Sosial[k]itaOctober 27, 2006 11:18 am

Jika kita perhatikan taksi-taksi yang ada di Jakarta ini, bisa dibagi menjadi dua kategori dari sisi tarif: tarif lama (mencantumkan label : tarif lama, baik di kaca depan ataupun di kaca belakang), mengapa tulisan tarif nya diletakkan di kaca belakang? tanya kenapa? Satu lagi yang memberlakukan tarif baru (tidak dikasih label).
Saya jadi penasaran dengan tulisan ‘tarif lama’ tsb, seberapa validkah tulisan itu?. Kebetulan saya ada suatu keperluan jemput keluarga di Halim PK, saya sengaja berangkat menggunakan taksi yang memberlakukan tarif baru, dan saya catat rute dan argonya. Pulangnya saya menggunakan jasa taksi ‘tarif lama’, dengan rute yang sama dengan berangkat, sampai di rumah saya cek argonya….wow….ternyata ongkosnya hanya selisih 2000 rupiah dari taksi berangkat. Tapi selisih lebih mahal….ck..ck…ck. Saya bayar lebih mahal untuk taksi ‘tarif lama’ dibanding taksi tarif baru.
Jadi kesimpulan saya sementara tulisan ‘tarif lama’ tidaklah terbukti lebih murah. Atau jangan-jangan ‘tarif lama’ itu berarti harga lebih mahal dibanding tarif baru ya?

Sosial[k]itaOctober 25, 2006 5:13 pm

Oleh karena keluarga dari luar kota (luar pulau) yang pengen tahu taman mini, ancol, monas dll yang membuat saya akhirnya menjadi ‘guide’ selama liburan Idul Fitri ini. Dan terus terang selama sekian tahun tinggal di Jakarta belum sekalipun pergi ke tempat-tempat tsb. Justru dulu ketika masih sekolah SMP, pernah ikut ’study tour’. Jadi bayangan saya tentang tempat liburan tsb samar-samar.

Mau tak mau saya menjadi paling sok tahu (tentu !dibanding keluarga yang sama sekali belum pernah tahu). Untungnya pengalaman naik angkutan umum di jakarta yang bisa sedikit banyak memberi arah-rute perjalanan dari rumah ke lokasi pp.
Selama ini bukannya tidak mau ngajak istri jalan-jalan keliling tempat liburan di Jakarta, cuma bayangan Jakarta yang macet, panas, ditambah istri yang tidak tahan perjalanan jauh (suka mabuk darat) yang menambah keengganan jalan-jalan jauh.

Hari Kedua Idul Fitri: Taman Mini Indonesia Indah
Kami sekeluarga (orang tua, kakak ipar dan keluarganya) pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Sampai ke lokasi cukup cepat karena kita masuk keluar tol, ditambah hari libur, jalan belum macet. Masuk gerbang Taman Mini arah pintu utama, disodori tiket Rp.9.000,- per orang. (Fasilitas keliling lokasi pakai mobil gratis). Jam 10.00 WIB sudah banyak orang yang datang, mereka banyak menggelar tikar sambil makan-makan di bawah pohon rindang (serasa di kampung!). Supaya keluarga bisa tahu Taman Mini secara keseluruhan walau sekilas, ada beberapa alternatif: pertama, naik mobil gratis yang disediakan pihak pengelola (antri glek…abis gratis, ngejar-ngejar mobil berebutan tempat duduk mirip kalau lagi ngejar kopaja). Kedua, naik kereta api (modelnya seperti kereta api uap yang pakai batu bara/kayu, plus suaranya yang bising, tut…tut..tut…, jes…jes…jes..), rutenya keliling TMII.

Ketiga, naik kereta api (model kereta monorel, jalannya diatas permukaan kurang lebih 2 meter dari tanah), rutenya keliling TMII. Keempat, dengan naik skylift (seperti tertulis di dinding bangunannya, padanan indonesia nya: kereta gantung…). Disini ada dua jalur paralel sejajar dengan bangunan-bangunan tradisional tiap suku dan kolam berupa pulau2 yang ada di Indonesia (cuma sayang trak nya ngak memutar mengintari TMII ya, cuma lurus saja).

Kita pakai pilihan pertama dan keempat, rasanya kita bisa tahu semua TMII dengan naik kereta gantung ini, walaupun dari ketinggian sudah cukup. Naik mobil gratis, ya karena gratis itu makanya dicoba pula. Lumayan. Rasanya hari ini saya sudah menunaikan kewajiban sebagai guide dengan baik…. Besok kita jalan-jalan ke Ancol dan Monas ya…

Sosial[k]ita, PerjalananJuly 12, 2006 4:19 am

Perjalanan dari Medan menuju Kisaran ditempuh selama 3,5-5 jam, via taksi/travel. Bisa juga naik kereta api, walau cuma ada jam2 tertentu saja.
Lamanya perjalanan tergantung kesepakatan penumpang dengan supir, mau lambat ‘alon-alon asal kelakon’, apa mau cepat ‘grasak-grusuk’.
Perjalanan sampai Deli Serdang jalannya lebar cukup muat 4 mobil berjejer, tapi lewat itu jalannya menyempit, jadi hanya 2. Yang mendebarkan adalah sepanjang perjalanan lalu lalang mobil-mobil truk, tronton, adu cepat dengan ‘betor’ beca motor, disini uji nyali, jalan kecil, berkelok-kelok, lalu lintas ramai, apalagi menjelang malam, dominasinya moge, mobil gede.

Kota Kisaran, mirip muara bungo, bandar jaya kurang lebih, sebuah kota lintas, jalur lintas timur sumatera. Di kotanya banyak bangunan2 tua, domansi ruko-ruko 5 lantai untuk sarang walet.

Perihal makanan, banyak didominasi oleh makanan khas Chinesse, dan Padang, warung kopi kayaknya umum ya di sumatera.

Kalau malam, sepanjan jalan depan kantor banyak tenda-tenda orang jualan, kafe-kafe kata orang sini. Jam 11 malam di depan kantor masih ramai. Beragam jenis makanannya, walau terasa aneh dilidah, cukup menikmati juga.

Disini listriknya kurang stabil, dalam sehari bisa 2-3 kali tegangannya turun, UPS, stabilizer, dan genset menjadi syarat yang harus ada di kantor, kalau ngak…(ngak kebayang deh)

Demikian sekilas Kisaran, bagi yang suka jalan2, dan mencicipi makanan daerah, Kisaran cukup ramah juga dan bisa menambah perbendaharaan rasa.

Sosial[k]itaJanuary 13, 2006 12:40 pm

Pernahkah mengalami kejadian ketika berpapasan dengan orang lain di jalan yang sempit yang mengharuskan salah seorang berhenti dan membiarkan orang lain lewat, kita sama-sama berhenti atau sama-sama melangkah, sehingga untuk beberapa saat sama-sama langkahnya terhenti? Yang menarik adalah ketika kita mencoba melangkah, orang yang di depan kita juga ikut melangkah, dan ketika kita berhenti, orang tsb pun ikut berhenti.

Kejadian maju mundur itu terjadi beberapa kali sampai salah seorang memecah ‘kebuntuan’ tsb bisa dengan menyapa orang yang didepannya: Woi, maaf, sorry, ahaa dst. Apa sebenarnya yang terjadi dengan ini?

Yang bisa saya tangkap dari hal ini adalah, ketika orang berjalan sendirian ia akan larut dalam pikirannya sendiri, lamunannya sendiri (berjalan sambil melamun???) seolah tidak menghiraukan apapun disekelilingnya kecuali memperhatikan jalan yang akan dilewatinya. Nah ketika berpapasan dengan orang lain, yang secara naluri dia tahu jalan yang dilewatinya tidak mungkin dilewati berdua, refleksnya mengatakan dia harus berhenti memberi jalan atau dia tetap berjalan dengan asumsi orang lain yang mengalah. Tapi seperti yang disinggung di depan, yang terjadi adalah sama-sama berhenti atau sama-sama melangkah.
Adakah penjelasan yang lebih baik?