Sosial[k]ita, PerjalananApril 10, 2007 9:44 am

Ketika ke Surabaya kemarin saya menyempatkan diri melihat musibah lumpur di Porong-Sidoarjo, orang kadung bilang ‘lumpur lapindo’. Saya katakan musibah karena kejadian tsb telah membuat ribuan orang exodus dari tempat tinggalnya dan mengungsi ke barak-barak penampungan.

Disisi lain saya melihat ini sebagai fenomena alam terbentuknya gunung atau danau alam. Bagaimana tidak, upaya yang dilakukan untuk menutup lubang semburan sampai saat ini dikatakan belum berhasil. Lumpur terus menerus keluar dari perut bumi, membanjiri daerah-daerah yang lebih rendah. Bahkan saya amati di beberapa titik (yang sebelumnya adalah perkampungan), sudah mulai muncul semburan-semburan lumpur dan gas walaupun dalam ukuran yang kecil.

Yang saya lihat saat ini, orang berusaha untuk melokalisir area semburan lumpur agar tidak makin meluas. Dibuatnya urugan tanah membentuk cincin. Cincin urugan tanah paling jauh, yang paling dekat ke jalan dan rel kereta tingginya ada yang mencapai mungkin 5 meteran. Lumpur yang tertahan oleh cincin tsb sudah mulai mengendap dan membentuk danau, sementara cincin yang lebih dalam masih berupa lumpur halus…masih mengepul karena panas. Di cincin yang paling dalam dekat semburan lumpur…urugan dibuat makin tinggi.

Ini musibah bagi kebanyakan orang yang rumahnya terendam lumpur, hilangnya mata pencaharian bagi orang yang bekerja yang tempat kerjanya ikut terendam. Tapi fenomena ini sedikitnya menjadi ladang mata pencaharian bagi mereka yang masih bertahan. Mereka mengutip bayaran bagi siap saja yang ingin melihat langsung dari dekat fenomena tsb, menyewakan ojek bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat (sampai ke batas pita kuning yang tak boleh dilewati), menjual vdc berisi kronologis kejadian, serta warung-warung dan tempat parkir disekitar lokasi. Mereka menjadi guide bagi siapa saja yang datang melihat ini.

Foto-foto amatir berikut mengabadikan fenomena ini.
Gambar 1. Ketinggian lumpur yang lebih tinggi dibandingkan jalan dan jalanpun terendam air
memandang

Gambar 2. Lumpur yang mulai mengendap menghasilkan danau.
mendanau

Gambar 3. Pohon pun ikut mati karena terendam lumpur panas.
meranggas

Gambar 4. Pusat semburan yang dilokalisir dengan meninggikan tanggul.
semburan01

Gambar 5. Semuanya terendam menyisakan atap
terendam01

Gambar 6, Bangunan sudah mulai roboh digerogoti lumpur.
terendam02

Sosial[k]ita, PerjalananJuly 12, 2006 4:19 am

Perjalanan dari Medan menuju Kisaran ditempuh selama 3,5-5 jam, via taksi/travel. Bisa juga naik kereta api, walau cuma ada jam2 tertentu saja.
Lamanya perjalanan tergantung kesepakatan penumpang dengan supir, mau lambat ‘alon-alon asal kelakon’, apa mau cepat ‘grasak-grusuk’.
Perjalanan sampai Deli Serdang jalannya lebar cukup muat 4 mobil berjejer, tapi lewat itu jalannya menyempit, jadi hanya 2. Yang mendebarkan adalah sepanjang perjalanan lalu lalang mobil-mobil truk, tronton, adu cepat dengan ‘betor’ beca motor, disini uji nyali, jalan kecil, berkelok-kelok, lalu lintas ramai, apalagi menjelang malam, dominasinya moge, mobil gede.

Kota Kisaran, mirip muara bungo, bandar jaya kurang lebih, sebuah kota lintas, jalur lintas timur sumatera. Di kotanya banyak bangunan2 tua, domansi ruko-ruko 5 lantai untuk sarang walet.

Perihal makanan, banyak didominasi oleh makanan khas Chinesse, dan Padang, warung kopi kayaknya umum ya di sumatera.

Kalau malam, sepanjan jalan depan kantor banyak tenda-tenda orang jualan, kafe-kafe kata orang sini. Jam 11 malam di depan kantor masih ramai. Beragam jenis makanannya, walau terasa aneh dilidah, cukup menikmati juga.

Disini listriknya kurang stabil, dalam sehari bisa 2-3 kali tegangannya turun, UPS, stabilizer, dan genset menjadi syarat yang harus ada di kantor, kalau ngak…(ngak kebayang deh)

Demikian sekilas Kisaran, bagi yang suka jalan2, dan mencicipi makanan daerah, Kisaran cukup ramah juga dan bisa menambah perbendaharaan rasa.

Sosial[k]ita, PerjalananDecember 10, 2005 8:06 am

Pagi-pagi menyusuri jalan Jend. Sudirman Pelembang, udara masih terasa sejuk, walaupun arus kendaraan mulai banyak. Berjalan melewati pasar Cinde (pasar makanan, panganan khas palembang), kemudian ketemu mesjid agung (bundaran HI nya Palembang), trus menanjak ke jembatan Ampera.

Berdiri di jembatan ampera memandang ke sungai Musi, tampak beberapa ‘ketek’ berselewiran, mengangkut orang ataupun hasil bumi (nenas, sayuran, dll). Istilah ketek itu mengacu kepada perahu kecil (baik bermotor maupun tidak), entah istilah tsb munculnya dari mana, jika saya mereka-reka, mungkin karena berasal dari suara mesinnya, tek..ketek…ketekk…. Nampak perahu motor terseok-seok menarik muatan pasir melawan arus sungai menuju hulu. Mengingatkan saya ke perairan Riau beberapa tahun lalu ketika menaiki ‘Bukit Siguntang’, dimana pasir Riau diangkut dan dijual ke Singapura, menenggelamkan pulau di Riau kepulauan dan memuncukan kota di Singapura :(

Mungkin ‘view’nya akan lebih menarik jika bisa naik ke tiang, dulunya mungkin orang bisa naik dan menikmati pemandangan dari atas tiang jembatan, dan sekarang tidak lagi, sayang memang. Mungkin itu karena umur jembatan atau alasan lain sehingga tidak lagi bisa dinaiki.

Berdiri mematung di jembatan memandang ‘ketek’ yang berseliweran, melihat kendaraan yang lewat di jembatan, cukup membuat jembatan bergetar, rasanya jembatan itu bergetar naik turun mengikuti irama beban yang ditanggungnya. Saya tidak tahu sudah berapa lama jembatan ini berdiri dan masih berapa lama lagi jembatan ini bertahan oleh usia. Sekarang sudah ada jembatan Musi 2 dan disusul nanti jembatan Musi 3, mungkin itu menjadi pertanda, bahwa jembatan ampera sudah cukup berat menanggung beban.

Beban sebuah kota yang kemajuannya demikian pesat. Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II berdiri dengan megah, terasa begitu sangat modern dibanding bandara lama yang bersebelahan, menjadi satu bukti.

Pelembang dikenal dengan jembatan ampera- nya, makanan khas pempek dan krupuk ikannya, dengan kain songketnya, seperti syair lagu Pelembang Bari ini:

pelembang pelembang kota bari
bersih aman rapi dan indah
sudah ke sohor di zaman sriwijaya
sungai musi membelah kotanyo
pelembang kini bebena diri
cindo-cindo pecak gadisnyo
pabrik gedung betingkat
bagus nian tamannyo
membuat indah kota tercinto
lomba bidar tempatnyo di pelembang
kain songket buatan wong pelembang
rumah limas rumah adat pelembang
jembatan ampera ado di pelembang
wow..wow
pelembang pelembang kota kenangan
banyak nyimpen cerito lamo
peperangan di kota limo hari limo malem
candi welang jadi saksinyo

Sosial[k]ita, PerjalananJune 5, 2005 3:30 pm

Ini adalah ek-SP-e-D-isi terjauh yang saya lakukan ke wilayah Sumatera. Menempuh perjalanan 1 jam ke bandara, 1.5 jam via udara (sudah termasuk delay pesawat 30 menit), jadwal travel yang mulur sampe 3 jam, plus menempuh perjalanan darat selama 6 jam (sudah termasuk 1 jam istirahat karena ada penumpang mabuk, termasuk makan dan perbaikan mobil mogok) melewati hutan belukar, dan perkebunan sawit.

Satu jam pertama perjalanan dari Jambi melewati jalan yang bagus, lebar dan lurus (kayak tol) naik turun bukit. Kiri kanan masih ditemui rumah-rumah berjejer-jejer, serta ladang- ladang dari bekas hutan yang ditebangi. Mulai masuk wilayah Muara Bulian kemudian Muara Tebo, disepanjang jalan yang ditemui kalau ngak hutan ya kebun sawit. Perjalanan menyusuri sepanjang sungai batanghari. Rumah-rumah mulai jarang-jarang. Jalan berkelok-kelok sempit, jalan bolong dimana-mana (ngeri kalo perjalanan malam). Yang bersliweran kalau ngak bus AKAP (semisal bus ekonomi Medan - Solo, mana tahaan), ya mobil gandengan, truk-truk pengangkut sawit, tangki crude oil. Yang keliatan tangguh di medan seperti ini ya mobil 4x4, pajero, dan sejenisnya. Ngak keliatan sedan seliweran di jalan ini..he.he..

Kebayang kalau mobil mogok malam hari di tengah hutan begitu..glek..ngak kebayang deh, jangan terjadi lah. Untungnya mobil yang ditumpangi mogok sore hari, service di daerah sungai bengkal. Coba kalau mogok malam hari di hutan????
Perjalanan malam hari, benar-benar gelap, cahaya hanya ada dari mobil-mobil yang berpapasan saja, selain itu gelap.

Lokasi kantor di dekat jalan lintas timur sumatera, menghubungkan Palembang-bengkulu- padang-pekanbaru. Jalan ini hidup 24 jam. Kota ini cukup ramai mungkin karena menjadi jalur lintas antar propinsi, disamping memiliki hasil bumi yakni sawit dan karet yang berlimpah. Perusahaan asing yang saya temui dalam perjalanan adalah Conoco Philips, ditandai dengan plang Well 09 Area yang menyempil diantara perkebunan sawit.

Di hotel saya liat beberapa expart asing (Jepang) yang menginap dengan pakaian khas pekerja lapangan. Leasing yang sudah ada duluan disini: FIF, Adira, BAF, BFI, Indomobil, dan baru akan buka adalah ACC. Bank yang ada disini baru: BRI, BNI, Mandiri, dan Danamon. Maaf ngak ada Lippo dan BII disini. Siap kena potongn kalo ngambil gaji-Lippo. Kalo ngak ya harus bawa cash ato pindahin ke bank lain sebelum berangkat kesini he..he.. ;)

Malam minggu kemarin, saya sempat melihat pesta kembang api yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan elektronik Columbus. Keliatannya lagi diadakan grand opening. Denger punya denger yang punyanya masih ada hubungan dengan perusahaan pembiayaan Columbia. Openingnya heboh dan mewah bener neh di kota semacam muara bungo. Bisnis itu sangat prospek kali ya disini.

Karyawan disini yang asli orang muara bungo hanyalah security, semuanya import dari Jambi dan Jakarta. Dalam minggu ini mereka keliatan sibuk mencari kontrakan. Disini ternyata biaya kontrakan dan makan termasuk mahal (lebih murah makan di di Atun atau di lamongan, dan ngontrak di ciputat deh). Begitu juga tarif hotel, untung ada bulan Juli Discont Party.

Sampai saat ini saya belum sempet jalan-jalan di dalam kota muara bungo, soalnya sibuk kerja, lagian kalau jalan siang hari itu sama dengan membiarkan disengat panasnya matahari. Rasanya mirip kalau kita manjat ke atas genteng di siang hari yang terik. Pasti terasa.

Oh..ya makannya apa disini? Samo kaya di Nagari urang awak, masakan padang:
Uni, tambo cie randangyo!

Sosial[k]ita, PerjalananMarch 13, 2005 8:00 am

Ternyata ambo kesampaian juga makan nasi padang di nagarinya urang awak. Kalau ngak takana juo, ya sari bundo, ya lamun ombak, dlsb. Disini nasinya tidak pulen, tidak lengket, sehingga ngak bisa dicomot dua-tiga jari, harus mengerahkan kelima jari (kalau sanggup), menurut orang sini, itulah nasi yang bagus dan bukan sebaliknya yang ada di jawa.

Satu yang paling kentara disini adalah cabai dan kuah. Makan indomie rebus, saosnya cabe giling, makan lontong sayur juga tak jauh beda. Pedes dan dijamin mulas-mulas..he..he.. Terus kuah, kayaknya ngak sah makan nasi padang jika ngak dikasih kuah, kuan-nyo yang banyak ya Uda?

Sarapan pagi disini kalau ngak lontong sayur, ya sat’e padaaang (baca padangnya yang panjang ya, teriakan menirukan tukang dagangnya). Biasanyo pagi makan bubur ayam atau nasi uduk, disini dikasih sate padaaang….

Makan Siang semuanyo samo, nasi padang atau nasi kapau atau nasi minang klasik. Kalo ngak randang, ya goreng ayam, kalau ngak ya gulai ayam, kalau ngak ayam bakar, dan samo sajo ternyato, itu-itu sajo. Ambo ni jadi berlemak ..berlemak. Ambo masih mencari gulai ikan patin tapi belom ketemu.

Malammnya, ambo bisa nyicipin martabak mesir alias martabak kubang, dan roti cane? Wuih roti cane kuah gulai, glek..gurih.

Jika ke padang, saya merekomendasikan beberapa tempat makan yang layak dikunjungi, menikmati cita raso masakan padang: ikan bakar di jalan dobi, lokasi di sekitar china town dekat pelabuhan, dijamin deh tambo cie. Rumah makan Pauh Piaman, ini bener-bener cita raso padang piaman, pengen liat orang makan meraup nasi pakai 5 jari?, dan meliat lazimnya orang sana makan, disinilah tempatnya. Enak lho masakannya.

Martabar Malabar, pengen cicipin martabak mesir atau martabak kubang, sekalian roti cane kuah gulai, dan teh tarik atau teh telor, disinilah tempat yang tepat. Sambil liatin atraksi orangnya bikin makanan tsb. Ramai kalau malam.

Ada yang lain yang bisa dicoba, sari bundo, atau lamun ombak, untuk mencoba variasi.
Kalau mulai ’enek’ dengan masakan padang mulu, malam bisa mampir di Swaso, tempat makan mirip cafe-cafe yang ada di jakarta, menu makanannya pun mirip-mirip di jakarta.

Kalau beli oleh-oleh mampirlah ke ”Christine Hakim”, semua yang pedes-pedes ada disana. Bahkan makanan kesukaan ‘Bos’ pun ada disini. Tetapi, jangan coba-coba mampir ke monica salon, denger-denger disana cream bathnya ’all out’ ngeri bagi yang ngak biasa…

Selamat menikmati.

Sosial[k]ita, PerjalananMarch 2, 2005 11:45 am

Dua ribu mas..dua ribu mas..keliling kota, tawar tukang beca sepanjang jalan menuju malioboro. Ngak ah… ngak ah….kapok ketiga kalinya ketemu tukang beca…ntar kayak tadi dikerjain lagi. Kapok..kapokkkk..

Menuju jalan malioboro dari arah keraton, mulai depan monumen 11 maret sampai depan benteng Vredenburg, disepanjang trotoar banyak muda-mudi bergerombol, pengamen, seniman musik, mbok-mbok bakul penjual sate mangkal. Bahkan nampak beberapa anak muda berpakaian aneh-aneh, ‘underground’ kali istilahnya. Enaknya mereka tidur-tiduran di trotoar menerawang bintang di langit kayaknya. Sepertinya mereka tidak peduli pada sekeliling, atau bahkan keliatan seperti melamun dengan tatapan kosong. Pengennya cepat-cepat menjauh dari area tersebut, ada sedikit perasaan tidak nyaman di sekitar itu. Rencana mau berfoto-foto di depan kedua tempat itu jadi urung, yang muncul justru rasa ngeri..ah ngak berani…

Masuk ke malioboro-nya, sebelah kiri jalan di depan jejeran toko-toko banyak penjual barang pernak-pernik, kaos, kain dll berjejer-jejer. Separo trotoar dihabiskan oleh lapak para pedagang tersebut. Ngak beda jauh dengan pasar baru Bandung, atau dalem kaum. Tapi satu hal iconnya adalah Dagadu dan Bakpia pathok. Kaos dagadu entah palsu atau asli atau asli tapi palsu banyak dijual. Katanya yang asli ada di lower ground malioboro mall, yang asli hanya ada di POSYANDU (Pos Pelayanan Dagadu). Jika dibandingkan harganya memang terpaut jauh, 12 ribu banding 45-70 ribu tergantung ukurannya. Silakan menilai lewat hati nurani masing-masing dan kesanggupan koceknya
.
Dagadu…dagadu Mas murah, keluar trotoar banyak tukang beca nawarin jasa. Jalan-jalan keliling kota mas murah dua ribu saja, jalan ke pusat dagadu mas…atau ke pusat bakpia pathok mas..murah mas ayo..ayoo. Klontang-klontang suara genta dari kereta kuda ikut menawarkan jasa antar.
Berjalan sepanjang kiri jalan malioboro sampai ke ujung stasiun kereta api, yang dijual sama, dengan harga yang tidak terpaut jauh dari satu pedagang ke pedagang lain, ketemu perempatan jalan kecil, didalamnya nampak papan nama hotel-hotel, dan losmen-losmen, coba masuk ke situ langsung ditawari, ada kamar kosong mas..mari..murah koq..cuma 30 ribu….
Kalau ingat tadi jadi nyesel…koq nyari losmen yang jauh, disini ternyata masih banyak yang kosong….Oh mas beca teganya bodohin aku…Hr..hr..hhrrr.

Mentok di stasiun arah balik, ambil kanan jalan, sepanjang rotoar berjejer warung nasi lesehan. Di dindingnya dipenuhi daftar menu-menu berikut harganya. Monggo mampir mas, makan gudeg mas…silakan…silakan… Menunya pun mirip-mirip dengan warung-warung nasi di sepanjang jalan Otista Cawang, atau Pasar Senen, cuma disini lesehan. Nyari apa ya koq ngak ada yang unik sih. Ketemu minuman es tape (unik kali), coba dulu, trus nyoba nasi gudeg komplit. Biasa saja tuh, rasanya mirip dengan yang ada di Jakarta.

Koq malioboro ngak seunik tahun 80′ an ya?, dimana ya istimewanya? Atau saya salah dalam cara memandang perubahan. Ya sudah, sekarang hari sudah larut malam, saya mesti pulang ke losmen, sekarang saya sudah beli peta yogya dan tahu dimana posisi sekarang dan posisi losmen tempat menginap berada, ngak bakalan tersesat sekarang mah. Malam mulai larut dan toko-toko sepanjang malioboro mulai tutup, tinggal lapak-lapak yang masih bertahan. Saya kembali melewati jalan tadi. Depan monumen 11 maret tersebut ternyata makin ramai, gerombolan para pemusik mendendangkan lagu, diiringi tarian waria dan orang yang keliatan mabuk. Gerombolan para ‘underground’ makin banyak duduk dan tiduran di trotoar. Rasa tidak nyaman kembali menghinggapi, pengen cepat menjauhi wilayah itu.

Berjalan menjauhi jalan malioboro, dengan sederet pertanyaan yang bergayut. Inikah malioboro yang saya kenal dulu? Ternyata sedemikian cepat perubahannya. Saya sekarang tidak bisa mengerti, dimana lagi keunikannya. Pertanyaan ini tidak sempat terjawab karena saya hanya punya waktu semalam di Yogya, dan ternyata saya tidak sempat mengubah kesan tentang Yogya hanya dalam waktu semalam.
Yang membuat sedikit saya terhibur adalah saya masih sempat melihat monumen, benteng tua, bangunan kerajaan sisa kejayaan jaman dulu. Sedikit mengobati kekecewaan saya terhadap yogya dengan membeli kaos aspal dagadu bergambar becak dan andong (karena kata orang keduanya itu khas di Yogya).

Pulangnya saya naik becak untuk yang ketiga kalinya, dengan pilihan yang lebih mantap, karena harus cepat sampai di losmen, cepat tidur, dan bisa bangun pagi agar bisa segera meninggalkan Yogya dan kembali ke Semarang dan bisa pulang ke Jakarta. Ke Jakarta aku kan kembali…..

Sosial[k]ita, Perjalanan 11:28 am

Saya ingin tahu Yogya…hanya itu alasan yang membelokkan perjalanan saya dari Salatiga ke Semarang. Saya menghentikan bus ketika sampai di Bawen, akses yang menghubungkan Semarang ke Yogya via Ambarawa-Magelang.

Perjalanan ditempuh dalam waktu 2.5 jam, melewati jalan yang mendaki berkelok-kelok melintasi punggung gunung. Pemandangan yang menyegarkan di banding Jakarta yang selalu nampak ruwet dan kusut, kesegaran itu pula yang membuat mata sulit terpejam, dan membuat badan terasa segar, lupa atas kepenatan sebelumnya.

Saya masih membayangkan Yogya seperti tahun 80′an ketika pergi studi tour ke Yogya-Borobudur-Prambanan-Parangtritis, tinggal di losmen belakang jalan malioboro, malam jalan-jalan di sepanjang malioboro, ketika haus minum wedang jahe, dan ketika lapar nyoba-yoba gudeg khas yogya. Satu hal yang masih diingat adalah makan-minum di Yogya murah ya…
Terus terang saya tidak tahu Yogya, dulu kan diantar bus carter kemana-mana, taunya duduk di kursi, disodorin makan minum, terkantuk-kantuk..sampai deh ke tempat tujuan. Dan sekarang naik bus umum, saya ngak tahu mau turun dimana???

Ya udah turun di terminal saja, gampangnya. Pas turun dari bus, saya dikuntit beberapa bapak-bapak, ada yang nawarin taksi, mobil carter dan beca. Semuanya tidak saya layani, saya telah berprasangka buruk saja, sengaja mengulur-ngulur waktu dengan minum dan makan cemilan di warung-warung sekalian bisa tanya-tanya. Tapi ternyata ada tukang beca yang begitu ulet mencoba mendekati dan menawarkan jasanya. Luluh akhirnya saya tanya, berapa ongkos ke malioboro? 20 ribu katanya, malah amat..?? 15 ribu…masih mahal, yang udah 10 ribu aja. Saya sepakat dan minta tolong antar ke losmen yang deket malioboro. Tak henti sepanjang jalan bapak itu mengajak ngobrol..bla..bla..bla…

Anter ke losmen yang deket malioboro ya..saya terus mengingatkan, ngak usah terlalu dekat ya pak, disana banyak anak-anak nakal, kupu-kupu malam, pokoknya serem, dia nimpali. Sampailah ke losmen yang dia tuju. Saya tanya lagi, dekat ngak ke malioboro? bapak tinggal keluar jalan ini belok kanan, ketemu malioboro. Wuih senengnya, deket juga ke malioboro nih.
Setelah istirahat sejenak, mandi dan terus sholat, saya bersemangat untuk bisa segera tahu malioboro. Keluar losmen, saya ditawari beca. Mau kemana pak? Ke Malioboro Pak? Naik beca saja pak Engak ah jalan saja deket koq, tiga kilo lho pak! Hahh…..?!*$%

Masa sih??? Udah Pak 5 ribu saja, sekalian jalan-jalan…Ya udah naik beca saja..murah cuma 5 ribu rupiah.. Akhirnya karena murah luluh juga…naik beca.
Sepanjang jalan tak henti bapak ini ngoceh….bla..bla..bla..(saya jadi ingat keponakan, pinter ngoceh) Kalau mau bapak saya antar ke pusat dagadu, ke pabriknya batik, ke toko bakpia pathok,murah-murah pak, atau bapak mau saya antar ke rumah makan dulu, mungkin bapak sudah lapar. Ngak Pak..terima kasih…Ngak Pak terima kasih…..
Setiap ketemu tempat yang dia sebut, walau saya ngak minta dia langsung main belok saja, ngak usah pak.. ngak usah nanti saja. Liat-liat dulu tho pak siapa tahu tertarik. Terus saja pak terus saja..ke Malioboro langsung. Terakhir dia belok di pabrik dagadu (dia bilang begitu), saya mulai jengkel, wong ngak minta koq keukeuh saja. Sampai saya sempat turun dan ngancam, kalau bapak ngak bisa ngantar saya ke malioboro, saya turun ganti beca lain saja. Akhirnya dia bilang, tadinya kalau bapak berhenti dulu disini, saya mau istirahat dulu, cape…Oooooo maaf.

Tapi pak kalau diantar ke malioboro harus tambah ongkos 5 ribu lagi..lho???? gimana nih tadi dibilang 5 ribu, sekarang minta tambah…Habis jauh pak, lho bapak sendiri yang minta segitu?? Dari awal khan saya tidak minta bapak mampir-mampir, saya minta langsung diantar ke malioboro, malah bapak muter-muter…Ndak apa-apa toh sambil lewat. Ups….
Ya udah, ndak apa-apa tambah 5 ribu lagi, tapi langsung ke malioboro ya, ngak usah belok-belok, cari jalan yang ngak muter-muter.

Nyampe malioboro hari sudah gelap (ada kali setengah jam naik beca). Wah bener juga jauh juga nih dari penginapan ke malioboro, wah bapak beca pertama ngebohongin saya nih, dibilang sudah deket ke malioboro taunya jauh begitu, hrr..hrr..hrr. Pantes ongkos beca kedua minta tambah.
Udah gelap gini, gimana bisa pulang ya, jauh begini, ngak hapal nama jalan-jalan yang tadi dilewati, yang ingat adalah hotel palupi, keluar jalan besar namanya jalan parangtritis. Yang terpikir saat itu adalah cari toko buku, nyari peta yogya agar bisa balik ke losmen.

Saya hanya bisa anter sampai sini pak, kata tukang beca, jalan malioboro lurus saja, saya ngak bisa anter sampai sana karena satu arah..Ya sudah saya turun. Saya turun di deket masjid agung, depannya ramai ada pasar malam (menjelang acara sekatenan) …bersambung

Sosial[k]ita, PerjalananFebruary 16, 2005 7:52 am

Jadwal pesawat garuda ke Pontianak yang terbatas mengharuskan saya bangun jam 3.30 pagi agar bisa boarding jam 5.45, wuih…ditambah sejak malamnya jakarta diguyur hujan, muncul rasa was-was ngak bisa sampai ke bandara maklum jakarta mudah sekali ditimpa banjir.

Perjalanan pesawat hanya ditempuh dalam waktu 1 jam 12 menit, sedangkan persiapan plus perjalanan dari rumah ke bandara memakan waktu hampir dua kali lipat, ck..ck..ck..

Satu hal yang menarik ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Supadio Pontianak, suasananya begitu lain dengan di jawa. Yang saya dengar hanya ada dua bahasa yang mereka pakai, yakni bahasa Tio Ciu (china) dan bahasa Melayu. Keliatannya bahasa Indonesia hanya dipakai untuk komunikasi dengan para pendatang.

Dari bandara langsung menuju kantor yang berada di kompleks ruko di ayani mega mall yang baru di buka (diklaim sebagai mall terbesar di pontianak), satu-satunya mall yang ada bioskop & 21. Sama seperti di bandara, disini orang bicara kalau ngak bahasa tio ciu ya bahasa melayu
Yang menarik saking besarnya menarik minat banyak orang untuk datang, orang rela datang dari sambas dan charter beberapa bus sekedar ingin liat itu mall. Padahal mall itu masih banyak yang belum ditempati, coba apa yang mereka liat disana? banyaknya tulisan opening soon-opening soon di tiap lokasi.

Dari jam 8-9 pagi orang rela menunggu depan gerbang, antri ingin segera masuk, padahal mall baru buka jam 10-an. Parkir motor dan mobil penuh, bahkan sampai di depan kantor (letaknya agak ke dalam) kalau malam..wah..wah..