Dalam lingkungan bisnis sekarang, memiliki disaster recovery yang robust bukan lagi barang mewah, melainkan sebuah kebutuhan. Kemungkinan sistem error, entah karena bencana alam (gempa bumi, badai, banjir, dll) atau karena sesuatu yang dilakukan manusia (virus, teroris, kehilangan daya, dll). Disaster recovery harus menjadi inti dari strategi IT.

Dengan bertambahnya x86 base server yang menjalankan aplikasi kritikal seperti Microsoft SQL Server, Exchange Server, maupun aplikasi AD, DNS, Web Server, dll maka kebutuhan akan disaster recovery menjadi sangat relevan dan penting.

Tradisional Disater Recovery adalah mahal
*Solusi disaster recovery tradisional menjadi sangat mahal dan kompleks. Bayangkan untuk merecover sistem/aplikasi di suatu mesin, kita harus menduplikat hardware/mesin, artinya kita harus memiliki sepasang hardware identik, satu di site produksi (primer) dan satu lagi di disaster recovery site.
*Disaster recovery site lebih banyak tidur atau idle, tapi tetap sama membutuhkan periodik maintenance, kebutuhan daya dan sistem pendingin yang besar.

Tradisional Disaster Recovery adalah Kompleks dan Lambat
*Tools dan proses yang kompleks seperti sistem imaging tools, tape backup dan bare-metal proses untuk sistem, aplikasi dan data recovery membutuhkan skill dan resource yang sulit untuk diperoleh dan di maintain.
*Aplikasi, system dan konfigurasi data perlu disimpan, dan di kloning atau direplikasi memakai proses yang khusus dan kompleks.
*Pengadaan perangkat fisik untuk kebutuhan recovery sangat memakan waktu. Recovery aplikasi dan data memakan waktu dari beberapa jam menjadi beberapa hari yang membuat proses bisnis akan terganggu.

Proses Recovery Fisik
Recovery akan memakan waktu sampai beberapa jam. Dimulai dari Konfigurasi hardware, Instal OS, konfigur OS, Instal backup berjalan sangat lambat dalam proses recovery.

Dengan menggunakan Virtual Machine (VM) kita terbebas dari ketergantungan hardware di data center, dimana fisikal server diganti menjadi virtual server di recovery site, hal ini membuat proses recovery menjadi lebih cepat. Dengan demikian dapat mereduce hardware dan maintenance cost.

Metode virtualisasi menjadi siginifikan terutama untuk kebutuhan business continuity dan disaster recovery. Virtualisasi memiliki intrinsik fitur seperti encapsulation, consolidation, dan independence hardware platform yang membuat solusi disaster recovery menjadi lebih manageable, flexible, dan less costly.

Jadi alasan yang bisa dirangkum, mengapa kita perlu menggunakan metode virtualisasi untuk Disaster Recovery Site, sbb:
Pertama, kita dapat me-’recovery Virtual Machine’ (VM) server baik Intel base maupun AMD tanpa khawatir akan perbedaan fisik hardware yang mendasarinya. Upaya restore server membutuhkan server yang identik (seperti vendor, model, konfigurasi). System compatibility antara hardware dan OS di recovery site dapat dieliminasi, dan membuat proses recovery menjadi dapat diandalkan.
Kedua, adalah kemungkinan untuk mengkonsolidasi server di recovery site dengan menempatkan beberapa VM dalam satu server fisik. Dalam skenario failover, alasan ini paling memungkinkan sebagai backup yang sifatnya temporer.
Ketiga, dalam kondisi normal, kita sebagai user dapat menggunakan server-server di recovery site untuk kebutuhan testing dan development.
Keempat, utilisasi hardware performance, dengan menempatkan beberapa VM dalam satu fisik mesin, utilisasi hardware menjadi maksimal.