Ketika ke Surabaya kemarin saya menyempatkan diri melihat musibah lumpur di Porong-Sidoarjo, orang kadung bilang ‘lumpur lapindo’. Saya katakan musibah karena kejadian tsb telah membuat ribuan orang exodus dari tempat tinggalnya dan mengungsi ke barak-barak penampungan.
Disisi lain saya melihat ini sebagai fenomena alam terbentuknya gunung atau danau alam. Bagaimana tidak, upaya yang dilakukan untuk menutup lubang semburan sampai saat ini dikatakan belum berhasil. Lumpur terus menerus keluar dari perut bumi, membanjiri daerah-daerah yang lebih rendah. Bahkan saya amati di beberapa titik (yang sebelumnya adalah perkampungan), sudah mulai muncul semburan-semburan lumpur dan gas walaupun dalam ukuran yang kecil.
Yang saya lihat saat ini, orang berusaha untuk melokalisir area semburan lumpur agar tidak makin meluas. Dibuatnya urugan tanah membentuk cincin. Cincin urugan tanah paling jauh, yang paling dekat ke jalan dan rel kereta tingginya ada yang mencapai mungkin 5 meteran. Lumpur yang tertahan oleh cincin tsb sudah mulai mengendap dan membentuk danau, sementara cincin yang lebih dalam masih berupa lumpur halus…masih mengepul karena panas. Di cincin yang paling dalam dekat semburan lumpur…urugan dibuat makin tinggi.
Ini musibah bagi kebanyakan orang yang rumahnya terendam lumpur, hilangnya mata pencaharian bagi orang yang bekerja yang tempat kerjanya ikut terendam. Tapi fenomena ini sedikitnya menjadi ladang mata pencaharian bagi mereka yang masih bertahan. Mereka mengutip bayaran bagi siap saja yang ingin melihat langsung dari dekat fenomena tsb, menyewakan ojek bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat (sampai ke batas pita kuning yang tak boleh dilewati), menjual vdc berisi kronologis kejadian, serta warung-warung dan tempat parkir disekitar lokasi. Mereka menjadi guide bagi siapa saja yang datang melihat ini.
Foto-foto amatir berikut mengabadikan fenomena ini.
Gambar 1. Ketinggian lumpur yang lebih tinggi dibandingkan jalan dan jalanpun terendam air
Gambar 2. Lumpur yang mulai mengendap menghasilkan danau.
Gambar 3. Pohon pun ikut mati karena terendam lumpur panas.
Gambar 4. Pusat semburan yang dilokalisir dengan meninggikan tanggul.
Gambar 5. Semuanya terendam menyisakan atap
Gambar 6, Bangunan sudah mulai roboh digerogoti lumpur.
