Jika kita perhatikan taksi-taksi yang ada di Jakarta ini, bisa dibagi menjadi dua kategori dari sisi tarif: tarif lama (mencantumkan label : tarif lama, baik di kaca depan ataupun di kaca belakang), mengapa tulisan tarif nya diletakkan di kaca belakang? tanya kenapa? Satu lagi yang memberlakukan tarif baru (tidak dikasih label).
Saya jadi penasaran dengan tulisan ‘tarif lama’ tsb, seberapa validkah tulisan itu?. Kebetulan saya ada suatu keperluan jemput keluarga di Halim PK, saya sengaja berangkat menggunakan taksi yang memberlakukan tarif baru, dan saya catat rute dan argonya. Pulangnya saya menggunakan jasa taksi ‘tarif lama’, dengan rute yang sama dengan berangkat, sampai di rumah saya cek argonya….wow….ternyata ongkosnya hanya selisih 2000 rupiah dari taksi berangkat. Tapi selisih lebih mahal….ck..ck…ck. Saya bayar lebih mahal untuk taksi ‘tarif lama’ dibanding taksi tarif baru.
Jadi kesimpulan saya sementara tulisan ‘tarif lama’ tidaklah terbukti lebih murah. Atau jangan-jangan ‘tarif lama’ itu berarti harga lebih mahal dibanding tarif baru ya?
Oleh karena keluarga dari luar kota (luar pulau) yang pengen tahu taman mini, ancol, monas dll yang membuat saya akhirnya menjadi ‘guide’ selama liburan Idul Fitri ini. Dan terus terang selama sekian tahun tinggal di Jakarta belum sekalipun pergi ke tempat-tempat tsb. Justru dulu ketika masih sekolah SMP, pernah ikut ’study tour’. Jadi bayangan saya tentang tempat liburan tsb samar-samar.
Mau tak mau saya menjadi paling sok tahu (tentu !dibanding keluarga yang sama sekali belum pernah tahu). Untungnya pengalaman naik angkutan umum di jakarta yang bisa sedikit banyak memberi arah-rute perjalanan dari rumah ke lokasi pp.
Selama ini bukannya tidak mau ngajak istri jalan-jalan keliling tempat liburan di Jakarta, cuma bayangan Jakarta yang macet, panas, ditambah istri yang tidak tahan perjalanan jauh (suka mabuk darat) yang menambah keengganan jalan-jalan jauh.
Hari Kedua Idul Fitri: Taman Mini Indonesia Indah
Kami sekeluarga (orang tua, kakak ipar dan keluarganya) pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Sampai ke lokasi cukup cepat karena kita masuk keluar tol, ditambah hari libur, jalan belum macet. Masuk gerbang Taman Mini arah pintu utama, disodori tiket Rp.9.000,- per orang. (Fasilitas keliling lokasi pakai mobil gratis). Jam 10.00 WIB sudah banyak orang yang datang, mereka banyak menggelar tikar sambil makan-makan di bawah pohon rindang (serasa di kampung!). Supaya keluarga bisa tahu Taman Mini secara keseluruhan walau sekilas, ada beberapa alternatif: pertama, naik mobil gratis yang disediakan pihak pengelola (antri glek…abis gratis, ngejar-ngejar mobil berebutan tempat duduk mirip kalau lagi ngejar kopaja). Kedua, naik kereta api (modelnya seperti kereta api uap yang pakai batu bara/kayu, plus suaranya yang bising, tut…tut..tut…, jes…jes…jes..), rutenya keliling TMII.
Ketiga, naik kereta api (model kereta monorel, jalannya diatas permukaan kurang lebih 2 meter dari tanah), rutenya keliling TMII. Keempat, dengan naik skylift (seperti tertulis di dinding bangunannya, padanan indonesia nya: kereta gantung…). Disini ada dua jalur paralel sejajar dengan bangunan-bangunan tradisional tiap suku dan kolam berupa pulau2 yang ada di Indonesia (cuma sayang trak nya ngak memutar mengintari TMII ya, cuma lurus saja).
Kita pakai pilihan pertama dan keempat, rasanya kita bisa tahu semua TMII dengan naik kereta gantung ini, walaupun dari ketinggian sudah cukup. Naik mobil gratis, ya karena gratis itu makanya dicoba pula. Lumayan. Rasanya hari ini saya sudah menunaikan kewajiban sebagai guide dengan baik…. Besok kita jalan-jalan ke Ancol dan Monas ya…
