Pernahkah mengalami kejadian ketika berpapasan dengan orang lain di jalan yang sempit yang mengharuskan salah seorang berhenti dan membiarkan orang lain lewat, kita sama-sama berhenti atau sama-sama melangkah, sehingga untuk beberapa saat sama-sama langkahnya terhenti? Yang menarik adalah ketika kita mencoba melangkah, orang yang di depan kita juga ikut melangkah, dan ketika kita berhenti, orang tsb pun ikut berhenti.

Kejadian maju mundur itu terjadi beberapa kali sampai salah seorang memecah ‘kebuntuan’ tsb bisa dengan menyapa orang yang didepannya: Woi, maaf, sorry, ahaa dst. Apa sebenarnya yang terjadi dengan ini?

Yang bisa saya tangkap dari hal ini adalah, ketika orang berjalan sendirian ia akan larut dalam pikirannya sendiri, lamunannya sendiri (berjalan sambil melamun???) seolah tidak menghiraukan apapun disekelilingnya kecuali memperhatikan jalan yang akan dilewatinya. Nah ketika berpapasan dengan orang lain, yang secara naluri dia tahu jalan yang dilewatinya tidak mungkin dilewati berdua, refleksnya mengatakan dia harus berhenti memberi jalan atau dia tetap berjalan dengan asumsi orang lain yang mengalah. Tapi seperti yang disinggung di depan, yang terjadi adalah sama-sama berhenti atau sama-sama melangkah.
Adakah penjelasan yang lebih baik?