Pagi-pagi menyusuri jalan Jend. Sudirman Pelembang, udara masih terasa sejuk, walaupun arus kendaraan mulai banyak. Berjalan melewati pasar Cinde (pasar makanan, panganan khas palembang), kemudian ketemu mesjid agung (bundaran HI nya Palembang), trus menanjak ke jembatan Ampera.

Berdiri di jembatan ampera memandang ke sungai Musi, tampak beberapa ‘ketek’ berselewiran, mengangkut orang ataupun hasil bumi (nenas, sayuran, dll). Istilah ketek itu mengacu kepada perahu kecil (baik bermotor maupun tidak), entah istilah tsb munculnya dari mana, jika saya mereka-reka, mungkin karena berasal dari suara mesinnya, tek..ketek…ketekk…. Nampak perahu motor terseok-seok menarik muatan pasir melawan arus sungai menuju hulu. Mengingatkan saya ke perairan Riau beberapa tahun lalu ketika menaiki ‘Bukit Siguntang’, dimana pasir Riau diangkut dan dijual ke Singapura, menenggelamkan pulau di Riau kepulauan dan memuncukan kota di Singapura :(

Mungkin ‘view’nya akan lebih menarik jika bisa naik ke tiang, dulunya mungkin orang bisa naik dan menikmati pemandangan dari atas tiang jembatan, dan sekarang tidak lagi, sayang memang. Mungkin itu karena umur jembatan atau alasan lain sehingga tidak lagi bisa dinaiki.

Berdiri mematung di jembatan memandang ‘ketek’ yang berseliweran, melihat kendaraan yang lewat di jembatan, cukup membuat jembatan bergetar, rasanya jembatan itu bergetar naik turun mengikuti irama beban yang ditanggungnya. Saya tidak tahu sudah berapa lama jembatan ini berdiri dan masih berapa lama lagi jembatan ini bertahan oleh usia. Sekarang sudah ada jembatan Musi 2 dan disusul nanti jembatan Musi 3, mungkin itu menjadi pertanda, bahwa jembatan ampera sudah cukup berat menanggung beban.

Beban sebuah kota yang kemajuannya demikian pesat. Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II berdiri dengan megah, terasa begitu sangat modern dibanding bandara lama yang bersebelahan, menjadi satu bukti.

Pelembang dikenal dengan jembatan ampera- nya, makanan khas pempek dan krupuk ikannya, dengan kain songketnya, seperti syair lagu Pelembang Bari ini:

pelembang pelembang kota bari
bersih aman rapi dan indah
sudah ke sohor di zaman sriwijaya
sungai musi membelah kotanyo
pelembang kini bebena diri
cindo-cindo pecak gadisnyo
pabrik gedung betingkat
bagus nian tamannyo
membuat indah kota tercinto
lomba bidar tempatnyo di pelembang
kain songket buatan wong pelembang
rumah limas rumah adat pelembang
jembatan ampera ado di pelembang
wow..wow
pelembang pelembang kota kenangan
banyak nyimpen cerito lamo
peperangan di kota limo hari limo malem
candi welang jadi saksinyo