Dua ribu mas..dua ribu mas..keliling kota, tawar tukang beca sepanjang jalan menuju malioboro. Ngak ah… ngak ah….kapok ketiga kalinya ketemu tukang beca…ntar kayak tadi dikerjain lagi. Kapok..kapokkkk..

Menuju jalan malioboro dari arah keraton, mulai depan monumen 11 maret sampai depan benteng Vredenburg, disepanjang trotoar banyak muda-mudi bergerombol, pengamen, seniman musik, mbok-mbok bakul penjual sate mangkal. Bahkan nampak beberapa anak muda berpakaian aneh-aneh, ‘underground’ kali istilahnya. Enaknya mereka tidur-tiduran di trotoar menerawang bintang di langit kayaknya. Sepertinya mereka tidak peduli pada sekeliling, atau bahkan keliatan seperti melamun dengan tatapan kosong. Pengennya cepat-cepat menjauh dari area tersebut, ada sedikit perasaan tidak nyaman di sekitar itu. Rencana mau berfoto-foto di depan kedua tempat itu jadi urung, yang muncul justru rasa ngeri..ah ngak berani…

Masuk ke malioboro-nya, sebelah kiri jalan di depan jejeran toko-toko banyak penjual barang pernak-pernik, kaos, kain dll berjejer-jejer. Separo trotoar dihabiskan oleh lapak para pedagang tersebut. Ngak beda jauh dengan pasar baru Bandung, atau dalem kaum. Tapi satu hal iconnya adalah Dagadu dan Bakpia pathok. Kaos dagadu entah palsu atau asli atau asli tapi palsu banyak dijual. Katanya yang asli ada di lower ground malioboro mall, yang asli hanya ada di POSYANDU (Pos Pelayanan Dagadu). Jika dibandingkan harganya memang terpaut jauh, 12 ribu banding 45-70 ribu tergantung ukurannya. Silakan menilai lewat hati nurani masing-masing dan kesanggupan koceknya
.
Dagadu…dagadu Mas murah, keluar trotoar banyak tukang beca nawarin jasa. Jalan-jalan keliling kota mas murah dua ribu saja, jalan ke pusat dagadu mas…atau ke pusat bakpia pathok mas..murah mas ayo..ayoo. Klontang-klontang suara genta dari kereta kuda ikut menawarkan jasa antar.
Berjalan sepanjang kiri jalan malioboro sampai ke ujung stasiun kereta api, yang dijual sama, dengan harga yang tidak terpaut jauh dari satu pedagang ke pedagang lain, ketemu perempatan jalan kecil, didalamnya nampak papan nama hotel-hotel, dan losmen-losmen, coba masuk ke situ langsung ditawari, ada kamar kosong mas..mari..murah koq..cuma 30 ribu….
Kalau ingat tadi jadi nyesel…koq nyari losmen yang jauh, disini ternyata masih banyak yang kosong….Oh mas beca teganya bodohin aku…Hr..hr..hhrrr.

Mentok di stasiun arah balik, ambil kanan jalan, sepanjang rotoar berjejer warung nasi lesehan. Di dindingnya dipenuhi daftar menu-menu berikut harganya. Monggo mampir mas, makan gudeg mas…silakan…silakan… Menunya pun mirip-mirip dengan warung-warung nasi di sepanjang jalan Otista Cawang, atau Pasar Senen, cuma disini lesehan. Nyari apa ya koq ngak ada yang unik sih. Ketemu minuman es tape (unik kali), coba dulu, trus nyoba nasi gudeg komplit. Biasa saja tuh, rasanya mirip dengan yang ada di Jakarta.

Koq malioboro ngak seunik tahun 80′ an ya?, dimana ya istimewanya? Atau saya salah dalam cara memandang perubahan. Ya sudah, sekarang hari sudah larut malam, saya mesti pulang ke losmen, sekarang saya sudah beli peta yogya dan tahu dimana posisi sekarang dan posisi losmen tempat menginap berada, ngak bakalan tersesat sekarang mah. Malam mulai larut dan toko-toko sepanjang malioboro mulai tutup, tinggal lapak-lapak yang masih bertahan. Saya kembali melewati jalan tadi. Depan monumen 11 maret tersebut ternyata makin ramai, gerombolan para pemusik mendendangkan lagu, diiringi tarian waria dan orang yang keliatan mabuk. Gerombolan para ‘underground’ makin banyak duduk dan tiduran di trotoar. Rasa tidak nyaman kembali menghinggapi, pengen cepat menjauhi wilayah itu.

Berjalan menjauhi jalan malioboro, dengan sederet pertanyaan yang bergayut. Inikah malioboro yang saya kenal dulu? Ternyata sedemikian cepat perubahannya. Saya sekarang tidak bisa mengerti, dimana lagi keunikannya. Pertanyaan ini tidak sempat terjawab karena saya hanya punya waktu semalam di Yogya, dan ternyata saya tidak sempat mengubah kesan tentang Yogya hanya dalam waktu semalam.
Yang membuat sedikit saya terhibur adalah saya masih sempat melihat monumen, benteng tua, bangunan kerajaan sisa kejayaan jaman dulu. Sedikit mengobati kekecewaan saya terhadap yogya dengan membeli kaos aspal dagadu bergambar becak dan andong (karena kata orang keduanya itu khas di Yogya).

Pulangnya saya naik becak untuk yang ketiga kalinya, dengan pilihan yang lebih mantap, karena harus cepat sampai di losmen, cepat tidur, dan bisa bangun pagi agar bisa segera meninggalkan Yogya dan kembali ke Semarang dan bisa pulang ke Jakarta. Ke Jakarta aku kan kembali…..