Sosial[k]ita, PerjalananMarch 13, 2005 8:00 am

Ternyata ambo kesampaian juga makan nasi padang di nagarinya urang awak. Kalau ngak takana juo, ya sari bundo, ya lamun ombak, dlsb. Disini nasinya tidak pulen, tidak lengket, sehingga ngak bisa dicomot dua-tiga jari, harus mengerahkan kelima jari (kalau sanggup), menurut orang sini, itulah nasi yang bagus dan bukan sebaliknya yang ada di jawa.

Satu yang paling kentara disini adalah cabai dan kuah. Makan indomie rebus, saosnya cabe giling, makan lontong sayur juga tak jauh beda. Pedes dan dijamin mulas-mulas..he..he.. Terus kuah, kayaknya ngak sah makan nasi padang jika ngak dikasih kuah, kuan-nyo yang banyak ya Uda?

Sarapan pagi disini kalau ngak lontong sayur, ya sat’e padaaang (baca padangnya yang panjang ya, teriakan menirukan tukang dagangnya). Biasanyo pagi makan bubur ayam atau nasi uduk, disini dikasih sate padaaang….

Makan Siang semuanyo samo, nasi padang atau nasi kapau atau nasi minang klasik. Kalo ngak randang, ya goreng ayam, kalau ngak ya gulai ayam, kalau ngak ayam bakar, dan samo sajo ternyato, itu-itu sajo. Ambo ni jadi berlemak ..berlemak. Ambo masih mencari gulai ikan patin tapi belom ketemu.

Malammnya, ambo bisa nyicipin martabak mesir alias martabak kubang, dan roti cane? Wuih roti cane kuah gulai, glek..gurih.

Jika ke padang, saya merekomendasikan beberapa tempat makan yang layak dikunjungi, menikmati cita raso masakan padang: ikan bakar di jalan dobi, lokasi di sekitar china town dekat pelabuhan, dijamin deh tambo cie. Rumah makan Pauh Piaman, ini bener-bener cita raso padang piaman, pengen liat orang makan meraup nasi pakai 5 jari?, dan meliat lazimnya orang sana makan, disinilah tempatnya. Enak lho masakannya.

Martabar Malabar, pengen cicipin martabak mesir atau martabak kubang, sekalian roti cane kuah gulai, dan teh tarik atau teh telor, disinilah tempat yang tepat. Sambil liatin atraksi orangnya bikin makanan tsb. Ramai kalau malam.

Ada yang lain yang bisa dicoba, sari bundo, atau lamun ombak, untuk mencoba variasi.
Kalau mulai ’enek’ dengan masakan padang mulu, malam bisa mampir di Swaso, tempat makan mirip cafe-cafe yang ada di jakarta, menu makanannya pun mirip-mirip di jakarta.

Kalau beli oleh-oleh mampirlah ke ”Christine Hakim”, semua yang pedes-pedes ada disana. Bahkan makanan kesukaan ‘Bos’ pun ada disini. Tetapi, jangan coba-coba mampir ke monica salon, denger-denger disana cream bathnya ’all out’ ngeri bagi yang ngak biasa…

Selamat menikmati.

Sosial[k]ita, PerjalananMarch 2, 2005 11:45 am

Dua ribu mas..dua ribu mas..keliling kota, tawar tukang beca sepanjang jalan menuju malioboro. Ngak ah… ngak ah….kapok ketiga kalinya ketemu tukang beca…ntar kayak tadi dikerjain lagi. Kapok..kapokkkk..

Menuju jalan malioboro dari arah keraton, mulai depan monumen 11 maret sampai depan benteng Vredenburg, disepanjang trotoar banyak muda-mudi bergerombol, pengamen, seniman musik, mbok-mbok bakul penjual sate mangkal. Bahkan nampak beberapa anak muda berpakaian aneh-aneh, ‘underground’ kali istilahnya. Enaknya mereka tidur-tiduran di trotoar menerawang bintang di langit kayaknya. Sepertinya mereka tidak peduli pada sekeliling, atau bahkan keliatan seperti melamun dengan tatapan kosong. Pengennya cepat-cepat menjauh dari area tersebut, ada sedikit perasaan tidak nyaman di sekitar itu. Rencana mau berfoto-foto di depan kedua tempat itu jadi urung, yang muncul justru rasa ngeri..ah ngak berani…

Masuk ke malioboro-nya, sebelah kiri jalan di depan jejeran toko-toko banyak penjual barang pernak-pernik, kaos, kain dll berjejer-jejer. Separo trotoar dihabiskan oleh lapak para pedagang tersebut. Ngak beda jauh dengan pasar baru Bandung, atau dalem kaum. Tapi satu hal iconnya adalah Dagadu dan Bakpia pathok. Kaos dagadu entah palsu atau asli atau asli tapi palsu banyak dijual. Katanya yang asli ada di lower ground malioboro mall, yang asli hanya ada di POSYANDU (Pos Pelayanan Dagadu). Jika dibandingkan harganya memang terpaut jauh, 12 ribu banding 45-70 ribu tergantung ukurannya. Silakan menilai lewat hati nurani masing-masing dan kesanggupan koceknya
.
Dagadu…dagadu Mas murah, keluar trotoar banyak tukang beca nawarin jasa. Jalan-jalan keliling kota mas murah dua ribu saja, jalan ke pusat dagadu mas…atau ke pusat bakpia pathok mas..murah mas ayo..ayoo. Klontang-klontang suara genta dari kereta kuda ikut menawarkan jasa antar.
Berjalan sepanjang kiri jalan malioboro sampai ke ujung stasiun kereta api, yang dijual sama, dengan harga yang tidak terpaut jauh dari satu pedagang ke pedagang lain, ketemu perempatan jalan kecil, didalamnya nampak papan nama hotel-hotel, dan losmen-losmen, coba masuk ke situ langsung ditawari, ada kamar kosong mas..mari..murah koq..cuma 30 ribu….
Kalau ingat tadi jadi nyesel…koq nyari losmen yang jauh, disini ternyata masih banyak yang kosong….Oh mas beca teganya bodohin aku…Hr..hr..hhrrr.

Mentok di stasiun arah balik, ambil kanan jalan, sepanjang rotoar berjejer warung nasi lesehan. Di dindingnya dipenuhi daftar menu-menu berikut harganya. Monggo mampir mas, makan gudeg mas…silakan…silakan… Menunya pun mirip-mirip dengan warung-warung nasi di sepanjang jalan Otista Cawang, atau Pasar Senen, cuma disini lesehan. Nyari apa ya koq ngak ada yang unik sih. Ketemu minuman es tape (unik kali), coba dulu, trus nyoba nasi gudeg komplit. Biasa saja tuh, rasanya mirip dengan yang ada di Jakarta.

Koq malioboro ngak seunik tahun 80′ an ya?, dimana ya istimewanya? Atau saya salah dalam cara memandang perubahan. Ya sudah, sekarang hari sudah larut malam, saya mesti pulang ke losmen, sekarang saya sudah beli peta yogya dan tahu dimana posisi sekarang dan posisi losmen tempat menginap berada, ngak bakalan tersesat sekarang mah. Malam mulai larut dan toko-toko sepanjang malioboro mulai tutup, tinggal lapak-lapak yang masih bertahan. Saya kembali melewati jalan tadi. Depan monumen 11 maret tersebut ternyata makin ramai, gerombolan para pemusik mendendangkan lagu, diiringi tarian waria dan orang yang keliatan mabuk. Gerombolan para ‘underground’ makin banyak duduk dan tiduran di trotoar. Rasa tidak nyaman kembali menghinggapi, pengen cepat menjauhi wilayah itu.

Berjalan menjauhi jalan malioboro, dengan sederet pertanyaan yang bergayut. Inikah malioboro yang saya kenal dulu? Ternyata sedemikian cepat perubahannya. Saya sekarang tidak bisa mengerti, dimana lagi keunikannya. Pertanyaan ini tidak sempat terjawab karena saya hanya punya waktu semalam di Yogya, dan ternyata saya tidak sempat mengubah kesan tentang Yogya hanya dalam waktu semalam.
Yang membuat sedikit saya terhibur adalah saya masih sempat melihat monumen, benteng tua, bangunan kerajaan sisa kejayaan jaman dulu. Sedikit mengobati kekecewaan saya terhadap yogya dengan membeli kaos aspal dagadu bergambar becak dan andong (karena kata orang keduanya itu khas di Yogya).

Pulangnya saya naik becak untuk yang ketiga kalinya, dengan pilihan yang lebih mantap, karena harus cepat sampai di losmen, cepat tidur, dan bisa bangun pagi agar bisa segera meninggalkan Yogya dan kembali ke Semarang dan bisa pulang ke Jakarta. Ke Jakarta aku kan kembali…..

Sosial[k]ita, Perjalanan 11:28 am

Saya ingin tahu Yogya…hanya itu alasan yang membelokkan perjalanan saya dari Salatiga ke Semarang. Saya menghentikan bus ketika sampai di Bawen, akses yang menghubungkan Semarang ke Yogya via Ambarawa-Magelang.

Perjalanan ditempuh dalam waktu 2.5 jam, melewati jalan yang mendaki berkelok-kelok melintasi punggung gunung. Pemandangan yang menyegarkan di banding Jakarta yang selalu nampak ruwet dan kusut, kesegaran itu pula yang membuat mata sulit terpejam, dan membuat badan terasa segar, lupa atas kepenatan sebelumnya.

Saya masih membayangkan Yogya seperti tahun 80′an ketika pergi studi tour ke Yogya-Borobudur-Prambanan-Parangtritis, tinggal di losmen belakang jalan malioboro, malam jalan-jalan di sepanjang malioboro, ketika haus minum wedang jahe, dan ketika lapar nyoba-yoba gudeg khas yogya. Satu hal yang masih diingat adalah makan-minum di Yogya murah ya…
Terus terang saya tidak tahu Yogya, dulu kan diantar bus carter kemana-mana, taunya duduk di kursi, disodorin makan minum, terkantuk-kantuk..sampai deh ke tempat tujuan. Dan sekarang naik bus umum, saya ngak tahu mau turun dimana???

Ya udah turun di terminal saja, gampangnya. Pas turun dari bus, saya dikuntit beberapa bapak-bapak, ada yang nawarin taksi, mobil carter dan beca. Semuanya tidak saya layani, saya telah berprasangka buruk saja, sengaja mengulur-ngulur waktu dengan minum dan makan cemilan di warung-warung sekalian bisa tanya-tanya. Tapi ternyata ada tukang beca yang begitu ulet mencoba mendekati dan menawarkan jasanya. Luluh akhirnya saya tanya, berapa ongkos ke malioboro? 20 ribu katanya, malah amat..?? 15 ribu…masih mahal, yang udah 10 ribu aja. Saya sepakat dan minta tolong antar ke losmen yang deket malioboro. Tak henti sepanjang jalan bapak itu mengajak ngobrol..bla..bla..bla…

Anter ke losmen yang deket malioboro ya..saya terus mengingatkan, ngak usah terlalu dekat ya pak, disana banyak anak-anak nakal, kupu-kupu malam, pokoknya serem, dia nimpali. Sampailah ke losmen yang dia tuju. Saya tanya lagi, dekat ngak ke malioboro? bapak tinggal keluar jalan ini belok kanan, ketemu malioboro. Wuih senengnya, deket juga ke malioboro nih.
Setelah istirahat sejenak, mandi dan terus sholat, saya bersemangat untuk bisa segera tahu malioboro. Keluar losmen, saya ditawari beca. Mau kemana pak? Ke Malioboro Pak? Naik beca saja pak Engak ah jalan saja deket koq, tiga kilo lho pak! Hahh…..?!*$%

Masa sih??? Udah Pak 5 ribu saja, sekalian jalan-jalan…Ya udah naik beca saja..murah cuma 5 ribu rupiah.. Akhirnya karena murah luluh juga…naik beca.
Sepanjang jalan tak henti bapak ini ngoceh….bla..bla..bla..(saya jadi ingat keponakan, pinter ngoceh) Kalau mau bapak saya antar ke pusat dagadu, ke pabriknya batik, ke toko bakpia pathok,murah-murah pak, atau bapak mau saya antar ke rumah makan dulu, mungkin bapak sudah lapar. Ngak Pak..terima kasih…Ngak Pak terima kasih…..
Setiap ketemu tempat yang dia sebut, walau saya ngak minta dia langsung main belok saja, ngak usah pak.. ngak usah nanti saja. Liat-liat dulu tho pak siapa tahu tertarik. Terus saja pak terus saja..ke Malioboro langsung. Terakhir dia belok di pabrik dagadu (dia bilang begitu), saya mulai jengkel, wong ngak minta koq keukeuh saja. Sampai saya sempat turun dan ngancam, kalau bapak ngak bisa ngantar saya ke malioboro, saya turun ganti beca lain saja. Akhirnya dia bilang, tadinya kalau bapak berhenti dulu disini, saya mau istirahat dulu, cape…Oooooo maaf.

Tapi pak kalau diantar ke malioboro harus tambah ongkos 5 ribu lagi..lho???? gimana nih tadi dibilang 5 ribu, sekarang minta tambah…Habis jauh pak, lho bapak sendiri yang minta segitu?? Dari awal khan saya tidak minta bapak mampir-mampir, saya minta langsung diantar ke malioboro, malah bapak muter-muter…Ndak apa-apa toh sambil lewat. Ups….
Ya udah, ndak apa-apa tambah 5 ribu lagi, tapi langsung ke malioboro ya, ngak usah belok-belok, cari jalan yang ngak muter-muter.

Nyampe malioboro hari sudah gelap (ada kali setengah jam naik beca). Wah bener juga jauh juga nih dari penginapan ke malioboro, wah bapak beca pertama ngebohongin saya nih, dibilang sudah deket ke malioboro taunya jauh begitu, hrr..hrr..hrr. Pantes ongkos beca kedua minta tambah.
Udah gelap gini, gimana bisa pulang ya, jauh begini, ngak hapal nama jalan-jalan yang tadi dilewati, yang ingat adalah hotel palupi, keluar jalan besar namanya jalan parangtritis. Yang terpikir saat itu adalah cari toko buku, nyari peta yogya agar bisa balik ke losmen.

Saya hanya bisa anter sampai sini pak, kata tukang beca, jalan malioboro lurus saja, saya ngak bisa anter sampai sana karena satu arah..Ya sudah saya turun. Saya turun di deket masjid agung, depannya ramai ada pasar malam (menjelang acara sekatenan) …bersambung