Sosial[k]itaSeptember 20, 2009 6:36 am

Alhamdulillah, Sabtu kemarin, 19 September 2009, jam 07.03 telah lahir anak kedua kami, seorang bayi perempuan cantik dengan berat 3.5kg dan panjang 50cm. Sebuah karunia terindah di hari nan fitri setelah penantian selama lebih 6 tahun sejak anak kami yang pertama.
Sulit dilukiskan betapa berbahagianya kami akan kehadiran bayi ini. Doa Ayah padamu nak, “Semoga menjadi anak yang sholehah, dan berbakti pada orang tua.” Amin

Network LogSeptember 16, 2009 5:11 am

Kali ini saya ingin share mengenai konfigurasi dari wireless campus network sederhana dengan menggunakan perangkat Cisco.
Ada tiga point yang ingin saya share disini, agar pembahasannya tidak kepanjangan dalam satu halaman, maka pembahasan konfigurasinya akan saya bagi menjadi empat bagian: pendahuluan, fungsi core switch (backbone switch), fungsi floor switch (access switch), dan fungsi Access Point.

Pendahuluan
Berikut adalah topologi jaringan wireless sederhana:
wireless-topo
Untuk contoh topologi ini saya menggunakan perangkat:
Core switch (Layer 3 switch, semisal Catalyst 3560)
Access switch (Layer 2 catalyst, semisal Catalyst 2960)
Access Point (Cisco Access point, semisal Aironet AP-1240)

Berikut adalah point-point yang akan saya share:
1.Core switch berfungsi sebagai:
#Layer 3 switch dengan intervlan routing, disini terdapat tiga vlan: vlan user, guest, dan management
#DHCP server untuk client wireless
#Koneksi core switch/backbone switch ke floor switch menggunakan etherchannel

2.Floor switch, berfungsi sebagai:
#Layer 2 switch, dimana ada 3 vlan: vlan user, vlan guest, dan vlan management

3.Access point berfungsi sebagai:
#Radius Server Lokal.
#Mengijinkan akses beberapa vlan (vlan user, vlan guest, dan vlan management),
#Client wireless yang bisa mengakses jaringan dibagi mejadi dua, pertama user asumsinya bisa akses data/server plus akses internet sedangkan guest hanya diijinkan hanya akses ke internet
#User menggunakan WPA security dan LEAP autentification (disini menggunakan AP sekaligus sebagai Radius server untuk LEAP autentication. Sedangkan guest menggunakan WPA shared key.

Untuk pendahuluan saya rasa cukup. Pada tulisan berikutnya, saya akan share konfigurasi di Core Switch.

Resensi 3:56 am

harden-infraHardening Network Infrastructure: Bulletproof Your Systems Before You Are Hacked!
by Wesley J. Noonan ISBN:0072255021 McGraw-Hill/Osborne © 2004 (http://www.amazon.com/Hardening-Network-Infrastructure-Wes-Noonan/dp/0072255021).

If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles. If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat. If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle. A general is skillful in attack whose opponent does not know what to defend; and he is skillful in defense whose opponent does not know what to attack.
Sun Tzu, The Art of War

Premise: “Hardening network infrastruktur adalah proses yang panjang, jika bekerja dengan baik, tidak ada kata berhenti, dan itu akan menjadi sesuatu yang rutin.” Disini diartikan bahwa proses hardening network infrastruktur bukan proses sekali jadi, cukup dan kemudian berhenti, akan tetapi merupakan sebuah siklus berupa pacthes, update dan review secara periodik.

1.Lakukan ini Sekarang! - Melakukan 6 Hal Sebelum Melakukan Hal Lain
1.1.Peninjauan Kembali Network Desain
1.2.Implementasi Firewall
1.3.Implementasi Access Control Lists (ACLs)
1.4.Matikan Fitur dan Service yang Tidak Dibutuhkan
1.5.Implementasi Antivirus
1.6.Amankan Koneksi Wireless

2.Urutkan dari Atas - Sistematik Proses Hardening
2.1.Menuliskan Kebijakan Sekuriti
2.2.Hardening Firewall
2.3.Hardening Network dengan Intrusion Detection and Prevention (IDS and IPS)
2.4.Hardening VPN dan Dial-in Remote Access
2.5.Hardening Router and Switch
2.6.Melindungi Network dengan Content Filters
2.7.Hardening Wireless LAN
2.8.Implementasi AAA (Authentication, Authorization, Accounting)
2.9.Hardening Network dengan Managemen Network
2.10.Implementasi Secure Perimeter
2.11.Implementasi Secure Interior

3.Sekali Tidak Pernah Cukup!
3.1.Tinjau Ulang Kebijakan Sekuriti
3.2.Tinjau Ulang Bentuk Sekuriti
3.3.Lakukan Audit Sekuriti

4.Bagaimana agar Sukses dalam Melakukan Hardening Network Infrastructure
4.1.Setting Persepsi dan Ekspektasi
4.2.Pembenaran atas Biaya Sekuriti
4.3.Alokasi Sumber Daya dan Isu Training
4.4.Implementasi Lab
4.5.Respon Terhadap Insiden

###
1.Lakukan ini Sekarang! - Melakukan 6 Hal Sebelum Melakukan Hal Lain
1.1.Peninjauan Kembali Network Desain
Dengan mengajukan beberapa pertanyaan:
Dimana koneksi Internet ?
Dimana koneksi eksternal?
Routing protokol apa yang digunakan?
Apakah menjalankan spanning tree protocol?
Apakah memiliki Intrusion Detection/Protection sistem(IDS/IPS)?
Apakah melakukan filtering konten?
Apakah mengimplementasi NAT, dan dimana diimplementasikan?
Apakah menggunakan VLAN untuk segmentasi?
Dimanakah lokasi server?
Apakah memberikan akses VPN/remote akses?
Vendor siapa yang dipakai selama ini?
Apa perangkat network yang dipakai selama ini?
Apakah menggunakan naming convention untuk perangkat?
apakah memiliki segmen khususu managemen?
Mekanisme AAA seperti apa yang digunakan di network?
Apa jenis monitoring/managemen tool yang dipakai?
Apakah menggunakan koneksi wireless?
1.2.Implementasi Firewall
Tipe firewall seperti apa yand diimplementasi di network?
Apakah berupa Application Proxies, Stateful Packet-Inspecting/Filtering Gateway atau berupa Hybrid Firewall?
1.3.Implementasi Access Control Lists (ACLs)
Implementasi proteksi spoofing
Implementasi proteksi TCP SYN attack
Implementasi ICMP filtering
Bloking trafik multicast jika tidak diperlukan
Impelementasi ACL untuk mengontrol Virtual Type Terminal (VTY) access (Telnet and SSH)
Implementasi ACL untuk mengontrol siapa yang memanage router via SNMP
1.4.Matikan Fitur dan Service yang Tidak Dibutuhkan
Mengevaluasi kebutuhan fitur dan service seperti Cisco Discovery Protocol (CDP), HTTP server, Bootp server, IP directed broadcast, NTP service, SNMP service, proxy ARP dan DNS service?
1.5.Implementasi Anti Virus
Lakukan proteksi antivirus untuk semua sistem baik server maupun desktop. Hanya ada satu jalan untuk mencegah penyebaran virus melalui netwok dengan cara mengkarantina sistem yang
terinsfeksi.
1.6.Amankan Koneksi Wireless
Perlunya dibuat kebijakan sekuriti yang untuk koneksi wireless, dibatasi hanya untuk kebutuhan IT support.
Mengijinkan hanya MAC address yang terdaftar saja yang bisa mengakses wireless network.
Menggunakan enkripsi berupa WEP, WPA, atau 802.i. untuk akses wireless.
Menggunakan autentikasi via shared secret key, 802.1x, autentikasi RADIUS atau sertifik yang disupport oleh perangkat keras.

2.Urutkan dari Atas - Sistematik Proses Hardening
2.1.Menuliskan Kebijakan Sekuriti
Kebijakan sekuriti yang baik akan menjadi Standard Operating procedure (SOP) yang digunakan setiap orang di organisasi sebagai rujukan mengenai apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dan bagaimana melakukannya. Sebelum melakukan perubahan di network, baik berupa penambahan perangkat atau mengatur kembali perangkat, harus selalu merujuk kepada kebijakan sekuriti untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan sudah sesuai dengan kebijakan sekuriti yang dibuat.
2.2.Hardening Firewall
Dasar-dasar hardening firewall meliputi beberapa hal sebagai berikut:
Hardening remote administration. Mencegah remote administrasi jika memungkinkan, dan mengijinkan hanya remote administratsi yang aman jika memang dibutuhkan.
Implementasi autentikasi dan autorisasi, untuk mengontrol siapa yang log on dan apa yang dilakukan ketika log on.
Hardening sistem operasi. Jika menggunakan sofware-base firewall, harus dilakukan hardening untuk sistem operasi yang mendasarinya, karena ini akan menjadi celah di firewall.
Hardening service firewall dan protokol. Mengijinkan service yanh dibutuhkan, lakukan enkripsi untuk trafik yang tidak aman dengan IPsec, dan hanya mengijinkan host tertentu yang bisa mengakses service tertentu.
Implementasi syslog. Syslog sangat penting untuk tujuan audit, forensik, dan troubleshooting.
Lakukan enkapsulasi trafik syslog dengan IPsec.
Menyediakan redundancy dan fault tolerance, sebagai fungsi failover dalam mengatasi kegagalan perangkat keras.
Hardening routing protokol, kalo memungkinkan selalu gunakanstatik route. Jika harus menggunakan routing protokol dinamik, hanya gunakan protokol yang memiliki mekanisme autentikasi.
2.3.Hardening Network dengan Intrusion Detection and Prevention (IDS and IPS)
Intrusion detection and Prevention, jika diimplementasi dengan baik, akan memberikan pengetahuan yang mendalam apa sebenarnya yang terjadi di network. namun jika tidak, ini hanya akan membuang budget IT. Kunci keberhasilan deploy IDS/IPS adalah harapan realistik seperti apa yang mampu dilakukan dan tidak oleh IDS/IPS tersebut.
2.4.Hardening VPN dan Dial-in Remote Access
VPN dan dial-in memungkinan user remote dan lokasi remote mengakses korporat resources layaknya lokal akses. Selalu pastikan bahwa semua koneksi menggunakan autentikasi, akses dial-in tersentralisasi dan termanage untuk memudahkan kontrol dan filter eksternal trafik. Jika memungkinkan, implementasi callback unuk memastikan bahwa konekasi yang terjadi datangnya dari lokasi yang memiliki otorisasi.
2.5.Hardening Router and Switch
Lakukan hardening management akses seperti console, vty, web GUI, dan auxilary dengan cara menonaktifkan, enkripsi, implementasi username, AAA, dan Banner.
Lakukan hardening service dan feature dengan cara menonaktifkan dan enkapsulasi dengan IPsec.
Lakukan hardening router dengan Implementasi redundancy, hardening routing protokol, implementasi managemen trafik dan IPsec, nonaktifkan interface yang tidak dipakai, implementasi pasif interface, filter update routing, gunakan ACL untuk memfilter trafik.
Lakukan hardening switch dengan melakukan hardening VLAN, VLAN Hopping, Private VLAN, VLAN ACL. Hardening service dan feature switch seperti VLAN Trunking Protocol (VTP), Auto-negotiation, Trunk links, Spanning Tree Protocol (STP), Port security, Dynamic ARP inspection, dan Storm control
2.6.Melindungi Network dengan Content Filters
Filter konten Internet dapat melindungi dari penyalahgunaan penggunaan akses internet, melindungi user dari mengakses website yang menggunakan java dan ActiveX yang dapat mengambil alih komputer serta dapat dilakukan penghematan network bandwidth.
Filter konten email berupa proteksi virus, filter attachment, filter konten, dan kendali atas spam.
2.7.Hardening Wireless LAN
Hardening Wireless Access Point, berupa hardening remote administrasi, konfigurasi Service Set identifier (SSID), konfigurasi logging, konfigurasi service, konfigurasi mode wireless.
Hardening koneksi Wireless LAN, meliputi hardening WEP, WPA menggunakan pre-shared key, WPA menggunakan RADIUS, hardening WLAN dengan VPN.
Hardening klien wireless Windows XP dengan WEP, WPA dengan pre-shared key, dan WPA menggunakan RADIUS/802.x.
2.8.Implementasi AAA (Authentication, Authorization, Accounting)
Implementasi AAA menungkinkan kontrol akses secara tegas untuk setiap session akses ke perangkat network melalui database terpusat. AAA memungkinan memberikan atau membatasi akses sesuai dengan kebutuhan network dan memungkinkan mengetahuai siapa dan kapan yang mengakses perangkat network.
Dua teknologi yang dipakai untuk memberikan AAA pada network infrastruktur:
Remote Authentication Dial-In User Service (RADIUS)
Terminal Access Controller Access Control System (TACACS+)
Perbedaan TACACS+ dengan RADIUS, pertama, TACACS+ menggunakan TCP untuk mengirimkan data, sedangkan RADIUS menggunakan UDP. Kedua, TACACS+ memisahkan operasi autentikasi dan autorisasi dibanding RADIUS yang menggunakan profil tungggal untuk autentikasi dan autorisasi.
Ketiga, TACACS+ dikembangkan oleh Cisco, dan tidak banyak vendor yang support.
2.9.Hardening Network dengan Managemen Network
Managemen network memberikan informasi yang dibutuhkan untuk:
Managemen Fault, yang memungkinkan kita mengidentifikasi fault yang terjadi di network
Managemen Konfigurasi, yang memungkinkan kita untuk meningkatkan sekuriti yang menjamin integritas dan fungsi dari perangkat.
Managemen Accounting, memungkinkan mengetahui apa yang dilakukan oleh pengguna.
Managemen Performa, yang memungkinkan kita memahami pola trafik dan kelakuan network yang memungkinkan kita mengidentifikasi penyimpangan dengan lebih cepat dan akurat.
Managemen Sekuriti, memungkinkan kita tidak hanya melakukan hardening perangkat network, sekaligus menggunakan network untuk melakukan hardening infrastruktur secara umum. Agar managemen network berjalan efektif di network, dimana sebagian besar managemen network protocol tidak aman secara desain, kita bisa menggunakan IPsec untuk mengamankan network protokol, termasuk managemen network yang kita gunakan.
2.10.Implementasi Secure Perimeter
Aspek mendasar dari network perimeter adalah penggunaan DMZ yang tepat yang memungkinkan pembatasan akses dari luar ke resource yang ada. Metode yang efektif untuk mengijinkan akses adalah dengan pendekatan modular, dimana preimeter dikelompokkan sesuai tugas dan fungsinya. Ada 6 modul yang umum diimplementasi:
Modul akses Internet, yang bertujuan memberikan eksternal/Internet akses untuk pengguna internal untuk layanan publik yang umum seperti smtp, www, dan DNS. Kebutuhan sekuriti ditangani oleh firewal, IDS/IPS.
Modul akses VPN/remote, tujuan utamanya adalah memberikan IPsec-base akses VPN koneksi site-to-site untuk host remote. Tambahan, modul ini memberikan akses dial-in dan ISDN untuk remote user. Kebutuhan sekuriti ditangani oleh VPN concentrator, firewal, IDS/IPS.
Modul akses WAN, tujuan utamanya memberikan akses kepada remote site via leased line, packet-switched, atau cell-switched yang disediakan oleh service provider . Kebutuhan sekuriti ditangani oleh firewall atau IPsec tunnel diantara lokasi.
Modul akses Extranet, modul ini memberikan akses remote ke partner strategis dan vendor.
Kebutuhan sekuriti ditangani oleh firewall, IDS, atau kadangkala VPN concetrator.
Modul akses Wireless. Modul ini memberikan akses wireless kepada user untuk bisa mengakses network korporat. Security diberikan oleh protokol seperti WEP, WPA, dan 802.x dan membutuhkan autentikasi klien wireless untuk terciptanya koneksi VPN. Firewall dan IDS/IPS dapat di deploy untuk mengontrol trafik ke dan dari klien wireless.
Modul akses E-commerce. Modul e-commerce biasanya lebih kompleks, fungsinya merupakan campuran diantara modul akses Internet dan modul akses Extranet. IDS/IPS secara ekstensif digunakan untuk memonitor dan menganalisa trafik di modul ini.
2.11.Implementasi Secure Interior
Penerapan Virtual LAN (VLAN) untuk segmentasi network antar subnet, menggunakan Private VLAN (PVLAN) untuk melakukan segmentasi diantara host, dan menggunakan VLAN untuk mengisolasi sistem yang mengalami insiden sehingga tidak mempengaruhi sistem secara keseluruhan.
Desain Enterprise Campus, yang terdiri dari core modul, server modul, distributsi modul, access modul, managemen modul, lab modul.
Hardening Kantor Cabang/Remote, disesuaikan dengan skala besar kecilnya kantor cabang.
Untuk kantor cabang yang memiliki akses internet sendiri, firewall, IDS/IPS dibutuhkan untuk proteksi perimeter modul. Untuk cabang yang menggunakan koneksi WAN, firewall dan IPsec dapat diimpelementasi untuk melindungi data yang melewati WAN. Baik kantor cabang maupun kantor remote tetap diperlakukan seperti interior modul, menggunakan VLAN, PVLAN, IDS/IPS jika dibutuhkan.

3.Sekali Tidak Pernah Cukup!
3.1.Tinjau Ulang Kebijakan Sekuriti
Sekuriti adalah proses dan bukan target. Tidak ada kata akhir dalam melakukan hardening infrasktruktur, selalu akan dilakukan update secara kontinu dan selalu dilakukan perubahan kebijakan sekuriti terkait dengan ancaman baru terhadap infrastruktur network. Untuk meninjau ulang kebijakan sekuriti, kita fokus ke beberapa hal:
Apakah kebijakan sekuriti yang telah dibuat itu bekerja? Ada sejumlah alasan mengapa kebijakan sekuriti tidak bekerja:
Pertama, kekurangan pengetahuan, ini bisa diatasi dengan pendidikan dan training.
Kedua, kebijakan sekuriti mempengaruhi proses bisnis. Ini akan menjadi situasi yang sulit karena umumnya akan menjadi isu politis, karena biasanya kebijakan sekuriti akan berlawanan dengan pembatasan atas kemudahan melakukan sesuatu, sehingga orang tidak mudah bersedia mengikuti kebijakan sekuriti.
Ketiga, kebijakan tidak efektif, dalam kasus kebijakan yang dibuat kelihatannya terlihat bagus di atas kertas, dalam tidak dalam prakteknya.Konsekuensinya kebijakan sekuriti harus di reevaluasi untuk memastikan ekspektasi sesuai dengan desain yang dibuat.
Apakah kebijakan sekuriti yang dibuat itu mampu mengetahui semua ancaman yang terjadi terhadap infrastruktur?
Metode yang efektif untuk mengenal ancaman baru adalah dengan mengikuti setiap perkembangan dari industri yang berdedikasi di bidang sekuriti yang mampu memberikan informasi mengenai ancaman baru, pacthes, dan upgrade yang dibutuhkan untuk mengatasi setiap ancaman baru.
Apakah kita memiliki mekanisme pencegahan yang dan kekuatan yang memadai atas kebijakan sekuriti yang ada?
Kebijakan sekuriti yang baik adalah mencegah terjadinya ancaman, dan tidak hanya sekedar mendefinisikan ancaman seperti apa atau apa yang akan dilakukan jika ancaman tersebut benar2 terjadi.
3.2.Tinjau Ulang Bentuk Sekuriti
Dalam kaitan dengan peninjauan ulang bentuk sekuriti, pastikan beberapa hal:
Tinjau kembali apakah kebijakan sekuriti benar-benar telah bekerja? Jika tidak, perlu segera dilakukan perubahan terhadap kebijakan atau perubahan terhadap apa yang dilakukan.
Pastikan selalu bahwa kontrol bekerja sesuai dengan kebijakan sekuriti yang telah dibuat.
Lakukan tinjauan terhadap kelakukan user terkait dengan kebijakan sekuriti. Pastikan user mengikuti kebijakan sekuriti yang telah dibuat.
Lakukan tinjauan terhadap kelakuan administrator , apakah tugas dan kewajibannya sudah sesuai dengan kebijakan sekuriti yang telah dibuat.
3.3.Lakukan Audit Sekuriti
Lakukan sekuriti audit terhadap infrastruktur dengan cara:
Lakukan ceklist terhadap kebijakan yang telah dibuat dengan best practice industri. Ckelist ini dibutuhkan untuk memeriksa dan memvalidasi seluruh kebijakan sekuriti dihbungkan dengan best practice yang berlaku di industri.
Lakukan vulnerability assesment. Assesment ini termasuk testing terhadap vulnerability sistem untuk memastikan bahwa seberapa besar potensi bahaya tersebut terhadap lingkungan.
Lakukan penetration testing untuk memastikan apakah ekspoitasi terhadap vulnerability tersebut akan membypass pertahanan dan mengambil alih akses terhadap sistem.
Lakukan internal audit. Keutungan internal audit adalah berbiaya rendah karena menggunakan sumber daya lokal. Metode yang terbaik adalah memisahkan fungsi audit dengan fungsi IT untuk memastikan bahwa fungsi audit dapat berjalan efektif.
Memanage Perubahan Lingkunan. Hal yang paling sulit dalam melakukan hardening infrastruktur network adalah memanage perubahan itu. Diperlukan perencaaan sebelum melakukan perubahan. Identifikasi sejauh mana kebutuhan akan perubahan, mendefinisikan skope perubahan, mengidentifikasikan perubahan yang dibuat, melakukan analisa resiko, merencanakan perubahan dan melakukan testing terhadapnya. Mendefinisikan team yang melakukan managemen perubahan, komunikasi, mendefinisikan team implementasi, melakukan update semua dokumentasi dan diagram terkait dengan perubahan, dan akhirnya melakukan review terhadap perubahan tersebut agar bisa berjalan secara efektif.

4.Bagaimana agar Sukses dalam Melakukan Hardening Network Infrastructure
4.1.Setting Persepsi dan Ekspektasi
Setting persepsi dan ekspektasi pihak user terkait dengan sekuriti, mengurangi ketakutan, mendapatkan kepercayaan user, komunikasi dengan user dan berlaku realistis.
Setting persepsi dan ekspektasi pihak managemen terkait dengan sekuriti, dengan melakukan komunikasi, meyakinkan pihak managemen, dan mendemontarsikan nilai apa yang bisa dicapai dalam proses ini dan tetap berlaku realistis
4.2.Pembenaran atas Biaya Sekuriti
Pembenaran atas Biaya Sekuriti dalam proses hardening infrastruktur dengan cara melakukan analisa resiko: identifikasi resiko dan ancaman, seberapa besar resiko, dan menyeimbangkan antara biaya sekuriti terkait dengan pencegahan dengan biaya pemulihan dan perbaikan.
4.3.Alokasi Sumber Daya dan Isu Training
Kebutuhan akan hardening infrastruktur membutuhkan kedalaman dan keluasan pengetahuan. Ada dua jalan, pertama, yakni dengan merekrut orang yang berpengalaman atau menggunakan jasa konsultan. Kedua, melakukan training kepada karyawan dengan materi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan dalam upaya hardening infrasktrutur.
4.4.Implementasi Lab
Implementasi pertama kali di Lab untuk kebutuhan testing produk, teknologi, sebelum diimplementasikan terhadap organisasi.
4.5.Respon Terhadap Insiden
Respon Terhadap Insiden dapat membantu menentukan apa yang harus dilakukan ketika insiden terjadi. Diperlukan Team yang khusus dalam menangani insiden, yang dapat melakukan upaya terbaik dalam menangani insiden tersebut.

Resensi 3:35 am

Selamat Datang di Blog ini. Saya sengaja menambahkan kategori resensi yang rencananya berisi resensi, rangkuman atau sanduran bebas dari buku yang menurut saya menarik untuk dibaca. Hitung-hitung jadi jejak, catatan dengan harapan bisa menambah pengetahuan, share dan bisa menjadi referensi yang berguna kedepannya.

Network LogSeptember 1, 2009 2:12 am

Remote access VPN memungkinkan remote atau mobile user untuk bisa terkoneksi ke jaringan perusahaan. Kalau dulu service ini dilayani oleh koneksi dial up dengan menggunakan modem analog. Perusahaan menyediakan banyak pool modem dan akses server untuk mengakomodasi kebutuhan remote tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya koneksi dial up digantikan dengan koneksi broadband DSL dan cable modem yang memungkinkan user korporat berpindah dari dial up ke remote akses vpn untuk komunikasi yang lebih baik.

Berikut adalah langkah-langkah (command line) untuk mengkonfigurasi remote access vpn di Cisco ASA:
Pertama, konfigurasi interface ASA
!–interface name
ASA(config)#interface GigabitEthernet 0/1
ASA(config-if)# no shutdown
ASA(config-if)# nameif outside
!–security level
ASA(config-if)#security-level 0
!–ip address
ASA(config-if)# ip address 20.1.1.50 255.0.0.0
!–Enable crypto isakmp
ASA(config)# crypto isakmp enable outside

Kedua, konfigurasi IP Pool
!–konfigurasi IP Pool
ASA(config)# ip local poolname 30.1.1.1-30.1.1.50
ASA(config)# route outside 0 0 20.0.0.0

Ketiga, konfigurasi user account
ASA(config)# username ism password Cisco.123

Keempat, mendefinisikan ISAKMP policy: authentication, encryption, hash, dan group
!–mendefinisikan isakmp policy 10
ASA-(config)#crypto isakmp policy 10
!–enable des ecryption
ASA(config-isakmp)#encryption des
!–enable algorithm md5 for hashing
ASA(config-isakmp)#hash md5
!–enable metode Pre-shared
ASA(config-isakmp)#authentication pre-share
!–enable diffie-Helman group 2
ASA(config-isakmp)#group 2
!–keluar dari mode crypto isakmp
ASA(config-isakmp)#exit

Kelima, membuat IPsec transform set
!–tipe enkripsinya des dan tehnik hashingnya md5-hmac
ASA(config)#crypto ipsec transform-set ts2 esp-des esp-md5-hmac
!–terapkan transform set
ASA(config)# crypto dynamic-map dmap 10 set transform-set ts2
!–panggil dynamic-map di crypto map dengan nama imap
ASA(config)#crypto map imap 10 ipsec-isakmp dynamic dmap

Keenam, konfigurasi tunnel group
!–create group untuk IT departemen
ASA(config)# tunnel-group itdept type ipsec-ra
!–create group policy
ASA(config)# tunnel-group itdept general-attributes
ASA(config-general)# address-pool poolname
ASA(config-general)# exit
ASA(config)# tunnel-group itdept ipsec-attributes
ASA(config-ipsec)# pre-shared-key Cisco
ASA(config-ipsec)# exit

Tujuh, apply crypto map di interface outside
ASA(config)# crypto map imap interface outside

Delapan, verifikasi secure tunnel dengan menggunakan Cisco VPN Client
Tunnel group: itdept
share key: Cisco
Username: ism
Password:Cisco.123
vpn-client

Semoga membantu.

Network LogAugust 31, 2009 1:24 am

Dalam konfigurasi router Cisco, biasanya kita mendefinisikan jumlah koneksi remote (via telnet/ssh) yang bisa aktif pada saat bersamaan ke router, seperti contoh berikut:
line vty 0 4
exec-timeout 30 0
login local
Berarti ada maksimal 5 koneksi yang bisa terjadi pada saat bersamaan (line 0, 1, 2, 3, dan 4).
Setiap kali kita/user yang konek sengaja atau tidak ketika selesai remote dia tidak exit/logout dari session, sehingga session koneksi tsb masih menggantung:
DSASWI1#systat
Line User Host(s) Idle Location
1 vty 0 ismt idle 5w1d 10.1.1.41
2 vty 1 ismt idle 2w1d 10.1.1.61
3 vty 2 ismt idle 4d12h 10.1.1.61
* 4 vty 3 ismt idle 00:00:00 10.103.50.22
5 vty 4 ismt idle 07:00:12 10.103.50.22
Contoh diatas menunjukkan ada 5 session yang masuk, session yang aktif ditandai dengan tanda * di depan
Jika session yang menggantung sudah maksimal sesuai kita definikan line vty 0 4, otomatis session telnet/ssh berikutnya akan ditolak.
Jika begitu kita harus konek via console untuk membuang session vty yang tidak aktif, gunakan perintah clear
DSASWI1#clear line vty 0
(membuang session di line vty 0), lakukan juga untuk session lain yang tidak aktif (menggantung).
Semoga membantu.

Network LogAugust 26, 2009 9:14 am

Jika kita terlanjur upgrade IOS, dan ternyata IOS tsb tidak cocok dengan spesifikasi hardwarenya, membuat routernya menjadi hang, maka untuk mengembalikan ke IOS sebelumnya, mulailah main-main dengan mode ROMMON, hiks…hiks…
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1.siapkan koneksi dari komputer ke router via console
2.reboot router
3.tekan key [Ctrl][Break]
4.masuk ke mode rommon:
rommon 1 > IP_ADDRESS=192.168.1.10
rommon 2 > IP_SUBNET_MASK=255.255.255.0
rommon 3 > DEFAULT_GATEWAY=192.168.1.1
rommon 4 > TFTP_SERVER=192.168.1.1
rommon 5 > TFTP_FILE=c2800nm-spservicesk9-mz.124-3i.bin
rommon 6 > tftpdnld
rommon 7 > reset

Isi flash akan terhapus semuanya dan digantikan dengan IOS yang kita copy dari tftp server ke router.
Semoga membantu.

Network LogAugust 25, 2009 4:48 am

Kalo di tulisan saya sebelumnya adalah bagaimana mengkonfigurasi Cisco ASA sebagai dial PPPoE klien, maka pembahasan kali ini bagaimana konfigurasi Cisco router sebagai gateway koneksi ke internet via PPPoE.
Topologi sederhananya seperti berikut:
router-pppoe

!— aktifkan vpdn
vpdn enable

interface FastEthernet0/0
description Router-Inside
ip address 172.16.1.1 255.255.255.0
ip nat inside
duplex auto
speed auto
!
interface FastEthernet0/1
description PPPoE to ISP
no ip address
duplex auto
speed auto
!—pppoe enable
pppoe enable
pppoe-client dial-pool-number 1

!
!—Create interface Dialer1
interface Dialer1
mtu 1492
!—x.x.x.x adalah ip publik yang diberikan oleh ISP
ip address x.x.x.x 255.255.255.255
ip nat outside
!—encapsulation ppp
encapsulation ppp
!—create dialer pool
dialer pool 1
!—create dialer group
dialer-group 1
!—autentifikasi menggunakan pap
ppp authentication pap callin
!—username dan pap
ppp pap sent-username abcdef password ***********
!
!—default routing ke arah eksternal network (internet)
ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 Dialer1

!—default routing ke internal network
ip route 10.1.1.0 255.255.255.0 172.16.1.2

ip nat inside source list 1 interface Dialer1 overload
access-list 1 permit 10.1.1.0 0.0.0.255

Semoga membantu.

Network LogAugust 24, 2009 6:50 am

Kali ini saya ingin sharing cara konfigurasi Cisco ASA (security appliance) sebagai Point to Point over Ethernet (PPPoE) Client. Sudah jamak diketahui terutama di kota besar seperti Jakarta, ISP memberikan layanan PPPoE. Cisco ASA ini menjadi gateway dari network klien untuk bisa koneksi internet.
Berikut adalah topologinya:
asa-pppoe

interface Ethernet0/1
nameif outside
security-level 0
!—VPDN Group untuk PPPoE klien
pppoe client vpdn group ISM
!—x.x.x.x adalah IP Publik yang diberikan oleh ISP
ip address x.x.x.x 255.255.255.255 pppoe

interface Ethernet0/2
nameif inside
security-level 100
ip address 10.10.10.254 255.255.255.0

global (outside) 1 interface
nat (inside) 1 0.0.0.0 0.0.0.0

!−−− Mendefinisikan group VPDN yang dipakai untuk PPPoE.
vpdn group ISM request dialout pppoe

!−−− Asosiasi username yang diperoleh dari ISP group VPDN.
vpdn group ISM localname cisco

!−−− pilih protokol autentifikasi.
vpdn group ISM ppp authentication pap

!−−− Create user name dan password koneksi PPPoE.
vpdn username cisco password *********

Semoga membantu.

Sys LogAugust 21, 2009 4:02 am

Mohon maaf baru nulis update Wifi untuk Ubuntu ME (8.0.4) di Notebook BYON M31W S/S - T5750. Tipe WiFi nya adalah Atheros AR5007EG. Berikut adalah link agar WiFi di laptop bisa dideteksi:
32 bit: http://ubuntuforums.org/showthread.php?p=4999962
64bit:http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=816780

Dokumen lain yang berguna:
http://madwifi-project.org/wiki/UserDocs/FirstTimeHowTo
http://madwifi-project.org/ticket/1679
http://madwifi-project.org/ticket/1192

Semoga membantu.